Monday, November 27, 2017

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap

Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno (Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan medang periode jateng) adalah lanjutan dari kerajaan kalingga di jateng sekitaran era ke 8 M, yang setelah itu geser ke provinsi jawa timur pada era 10. Penyebutan Mataram kuno atau mataram hindu bermanfaat untuk membedakan kerajaan ini dengan kerajaan mataram islam yang berdiri sekitaran era ke 16. Kerajaan ini roboh pada awal era ke 11. 

Penamaan 

Biasanya, arti Kerajaan Medang cuma umum digunakan untuk mengatakan periode Jawa Timur saja, walau sebenarnya berdasar pada prasasti-prasasti yang sudah diketemukan, nama Medang telah di kenal mulai sejak periode terlebih dulu, yakni periode Jawa Tengah. Disamping itu, nama yang umum digunakan untuk mengatakan Kerajaan Medang periode Jawa Tengah yaitu Kerajaan Mataram, yakni mengacu pada salah daerah ibu kota kerajaan ini. Terkadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada era ke-16, Kerajaan Medang periode Jawa Tengah umum juga dimaksud dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu. 

Pusat Kerajaan 

Bhumi Mataram yaitu sebutan lama untuk Yogyakarta serta sekelilingnya. Di daerah berikut untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang diprediksikan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Nama ini diketemukan dalam sebagian prasasti, umpamanya prasasti Minto serta prasasti Anjuk ladang. Arti Mataram lalu umum digunakan untuk mengatakan nama kerajaan keseluruhannya, walau tidak selama-lamanya kerajaan ini berpusat disana. 

Sebenarnya, pusat Kerajaan Medang sempat alami sekian kali perpindahan, bahkan juga hingga ke daerah Jawa Timur saat ini. Banyak daerah yang sempat jadi tempat istana Medang berdasar pada prasasti-prasasti yang telah diketemukan antaralain : 
  1. Medang i Bhumi Mataram (jaman Sanjaya) 
  2. Medang i Mamrati (jaman Rakai Pikatan) 
  3. Medang i Poh Pitu (jaman Dyah Balitung) 
  4. Medang i Bhumi Mataram (jaman Dyah Wawa) 
  5. Medang i Tamwlang (jaman Mpu Sindok) 
  6. Medang i Watugaluh (jaman Mpu Sindok) 
  7. Medang i Wwatan (jaman Dharmawangsa Teguh) 

Menurut perkiraan, Mataram terdapat di daerah Yogyakarta saat ini. Mamrati serta Poh Pitu diprediksikan terdapat di daerah Kedu. Disamping itu, Tamwlang saat ini dimaksud dengan nama Tembelang, sedang Watugaluh saat ini dimaksud Megaluh. Keduanya terdapat di daerah Jombang. Istana paling akhir, yakni Wwatan, saat ini dimaksud dengan nama Wotan, yang terdapat di daerah Madiun. 

Awal berdirinya kerajaan 

Prasasti Mantyasih th. 907 atas nama Dyah Balitung mengatakan dengan terang kalau raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) yaitu Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Sanjaya sendiri keluarkan prasasti Canggal th. 732, tetapi tidak mengatakan dengan terang apa nama kerajaannya. Ia cuma memberitakan ada raja beda yang memerintah pulau Jawa sebelumnya dianya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara jadi kacau. Sanjaya lalu tampak jadi raja, atas support ibunya, yakni Sannaha, saudara wanita Sanna. 

Sanna, dikenal juga dengan nama " Sena " atau " Bratasenawa ", adalah raja Kerajaan Galuh yang ke-3 (709 - 716 M). Bratasenawa dengan kata lain Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora (saudara satu ibu Sanna) dalam th. 716 M. Sena pada akhirnya melarikan diri ke Pakuan, memohon perlindungan pada Raja Tarusbawa. Tarusbawa yang disebut raja pertama Kerajaan Sunda (sesudah Tarumanegara pecah jadi Kerajaan Sunda serta Kerajaan Galuh) yaitu teman dekat baik Sanna. Persahabatan ini juga yang mendorong Tarusbawa ambil Sanjaya jadi menantunya. Sanjaya, anak Sannaha saudara wanita Sanna, punya niat menuntut balas pada keluarga Purbasora. Karenanya ia memohon pertolongan Tarusbawa (mertuanya yangg adalah teman dekat Sanna). Keinginannya dikerjakan sesudah jadi Raja Sunda yang memerintah atas nama istrinya. Pada akhirnya Sanjaya jadi penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh serta Kerajaan Kalingga (sesudah Ratu Shima mangkat). Dalam th. 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelumnya ia meninggalkan lokasi Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan pada puteranya, Tamperan, serta Resi Guru Demunawan. Sunda serta Galuh jadi kekuasaan Tamperan, sedang Kerajaan Kuningan serta Galunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja. 

Dari prasasti Canggal, dapat didapat info bila Kerajaan Mataram Kuno sudah berdiri serta berkembang sekitaran era ke-7 M dengan raja yang pertama yaitu Sanjaya yang mempunyai titel Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. 

Dinasti yang berkuasa 

Biasanya beberapa sejarawan mengatakan ada tiga dinasti yang sempat berkuasa di Kerajaan Medang, yakni Wangsa Sanjaya serta Wangsa Sailendra pada periode Jawa Tengah, dan Wangsa Isyana pada periode Jawa Timur. 

Arti Wangsa Sanjaya mengacu pada nama raja pertama Medang, yakni Raja Sanjaya. Dinasti ini berpedoman agama Hindu aliran Siwa. Berdasar pada pendapat van Naerssen, pada jaman pemerintahan Rakai Panangkaran (pengganti Raja Sanjaya pada th. 770an), kekuasaan atas Medang diambil oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana. 

Mulai sejak waktu itu Wangsa Sailendra berkuasa di tanah Jawa, bahkan juga berhasil juga kuasai Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra. Hingga pada akhirnya, sekitaran th. 840-an, seseorang keturunan Sanjaya bernama Rakai Pikatan menikah dengan Pramodawardhani yang disebut putri mahkota Wangsa Sailendra. Karena pernikahan itu ia dapat jadi raja di Medang, serta mengubahkan istana kerajaan Medang ke Mamrati. Hal itu dipandang jadi awal Bangkitan kembali Wangsa Sanjaya. 

Menurut teori Bosch, nama raja-raja Medang dalam Prasasti Mantyasih dipandang jadi anggota Wangsa Sanjaya keseluruhannya. Disamping itu Slamet Muljana memiliki pendapat kalau daftar itu yaitu daftar raja-raja yang sempat berkuasa di Medang, serta bukanlah daftar silsilah keturunan Sanjaya. 

Contoh yang diserahkan Slamet Muljana yaitu Rakai Panangkaran yang diyakininya bukanlah putra Sanjaya. Argumennya adalah, prasasti Kalasan th. 778 memberikan pujian pada Rakai Panangkaran jadi “permata wangsa Sailendra” (Sailendrawangsatilaka). Dengan hal tersebut pendapat ini menampik teori van Naerssen mengenai kekalahan Rakai Panangkaran oleh seseorang raja Sailendra. 

Menurut teori Slamet Muljana, raja-raja Medang versus Prasasti Mantyasih dari mulai Rakai Panangkaran s/d Rakai Garung yaitu anggota Wangsa Sailendra. Sedang kebangkitan Wangsa Sanjaya baru diawali mulai sejak Rakai Pikatan naik takhta menukar Rakai Garung. 

Arti Rakai pada jaman Medang identik dengan Bhre pada jaman Majapahit, yang berarti “penguasa di”. Jadi, titel Rakai Panangkaran sama berarti dengan “Penguasa di Panangkaran”. Nama aslinya diketemukan dalam prasasti Kalasan, yakni Dyah Pancapana. 

Slamet M lalu mengidentifikasi nama Rakai Panunggalan s/d Rakai Garung dengan nama raja-raja Wangsa Sailendra yang sudah di ketahui, umpamanya Dharanindra atau Samaratungga. yang sampai kini relatif dipandang bukanlah sisi dari daftar beberapa raja versus Prasasti Mantyasih. 

Disamping itu pada dinasti ke-3 yang berkuasa di Medang yaitu Wangsa Isana yang baru keluar pada ‘’periode Jawa Timur’’. Dinasti ini dibangun oleh Mpu Sindok yang membuat istana baru di Tamwlang th. 929an. Dalam prasastinya, Mpu Sindok mengatakan kalau kerajaannya adalah lanjutan dari Kadatwan Rahyangta i Medang i Bhumi Mataram. 

Raja-raja yang memimpin Kerajaan Medang 

Daftar raja-raja Medang menutur teori Slamet Muljana yaitu seperti berikut : 

  1. Sanjaya, (adalah pendiri Kerajaan Medang) 
  2. Rakai Panangkaran, (awal berkuasanya Wangsa Syailendra) 
  3. Rakai Panunggalan dengan kata lain Dharanindra 
  4. Rakai Warak dengan kata lain Samaragrawira 
  5. Rakai Garung dengan kata lain Samaratungga 
  6. Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, (awal kebangkitan Wangsa Sanjaya) 
  7. Rakai Kayuwangi dengan kata lain Dyah Lokapala 
  8. Rakai Watuhumalang 
  9. Rakai Watukura Dyah Balitung 
  10. Mpu Daksa 
  11. Rakai Layang Dyah Tulodong 
  12. Rakai Sumba Dyah Wawa 
  13. Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur 
  14. Sri Lokapala (merupaka suami dari Sri Isanatunggawijaya) 
  15. Makuthawangsawardhana 
  16. Dharmawangsa Teguh, (selesainya Kerajaan Medang) 

Pada daftar diatas cuma Sanjaya yang menggunakan titel Sang Ratu, sedang raja selanjutnya menggunakan titel Sri Maharaja. 

Susunan Pemerintahan 

Raja adalah pemimpin teratas Kerajaan Medang. Sanjaya jadi raja pertama menggunakan titel Ratu. Pada jaman itu arti Ratu belum juga identik dengan golongan wanita. Titel ini sama dengan Datu yang bermakna " pemimpin ". Keduanya adalah titel asli Indonesia. Saat Rakai Panangkaran dari Wangsa Sailendra berkuasa, titel Ratu dihapusnya serta ditukar dengan titel Sri Maharaja. Masalah yang sama berlangsung pada Kerajaan Sriwijaya dimana raja-rajanya awal mulanya bergelar Dapunta Hyang, serta sesudah dikuasai Wangsa Sailendra juga beralih jadi Sri Maharaja. 

Penggunaan titel Sri Maharaja di Kerajaan Medang tetaplah dilestarikan oleh Rakai Pikatan walau Wangsa Sanjaya berkuasa kembali. Hal semacam ini bisa diliat dalam daftar raja-raja versus Prasasti Mantyasih yang mengatakan cuma Sanjaya yang bergelar Sang Ratu. Jabatan teratas setelah raja adalah Rakryan Mahamantri i Hino atau terkadang ditulis Rakryan Mapatih Hino. Jabatan ini dipegang oleh putra atau saudara raja yang mempunyai kesempatan untuk naik takhta setelah itu. Umpamanya, Mpu Sindok adalah Mapatih Hino pada saat pemerintahan Dyah Wawa. 

Jabatan Rakryan Mapatih Hino pada jaman ini berlainan dengan Rakryan Mapatih pada jaman Majapahit. Patih jaman Majapahit sama dengan perdana menteri tetapi tidak memiliki hak untuk naik takhta. Jabatan setelah Mahamantri i Hino dengan berturut-turut yaitu Mahamantri i Halu serta Mahamantri i Sirikan. Pada jaman Majapahit jabatan-jabatan ini masih tetap ada tetapi sekedar hanya titel kehormatan saja. Pada jaman Wangsa Isana berkuasa masih tetap ditambah sekali lagi dengan jabatan Mahamantri Wka serta Mahamantri Bawang. 

Jabatan teratas di Medang setelah itu adalah Rakryan Kanuruhan jadi pelaksana perintah raja. Mungkin saja seperti perdana menteri pada jaman saat ini atau sama dengan Rakryan Mapatih pada jaman Majapahit. Jabatan Rakryan Kanuruhan pada jaman Majapahit memanglah masih tetap ada, tetapi sangkanya sama dengan menteri dalam negeri pada jaman saat ini. 

Perubahan Pemerintahan 

Sebelumnya Sanjaya berkuasa di Mataram Kuno, di Jawa telah berkuasa seseorang raja bernama Sanna. Menurut prasasti Canggal yang berangka th. 732 M, diterangkan kalau Raja Sanna sudah digantikan oleh Sanjaya. Raja Sanjaya yaitu putra Sanaha, saudara wanita dari Sanna. 

Dalam Prasasti Sojomerto yang diketemukan di Desa Sojomerto, Kabupaten Batang, dimaksud nama Dapunta Syailendra yang beragama Syiwa (Hindu). Diprediksikan Dapunta Syailendra datang dari Sriwijaya serta turunkan Dinasti Syailendra yang berkuasa di Jawa sisi tengah. Dalam hal semacam ini Dapunta Syailendra diprediksikan yang turunkan Sanna, jadi raja di Jawa. 

Sanjaya tampak memerintah Kerajaan Mataram Kuno pada th. 717 - 780 M. Ia meneruskan kekuasaan Sanna. Sanjaya lalu lakukan penaklukan pada raja-raja kecil sisa bawahan Sanna yang melepas diri. Kemudian, pada th. 732 M Raja Sanjaya membangun bangunan suci jadi tempat pemujaan. Bangunan ini berbentuk lingga serta ada diatas Gunung Wukir (Bukit Stirangga). Bangunan suci itu adalah simbol kesuksesan Sanjaya dalam mengalahkan raja-raja beda. 

Raja Sanjaya berlaku arif, adil dalam memerintah, serta mempunyai pengetahuan luas. Beberapa pujangga serta rakyat hormat pada rajanya. Oleh karenanya, dibawah pemerintahan Raja Sanjaya, kerajaan jadi aman serta tenteram. Rakyat hidup makmur. Mata pencaharian perlu yaitu pertanian dengan hasil paling utama padi. Sanjaya dikenal juga jadi raja yang memahami juga akan isi kitab-kitab suci. Bangunan suci dibuat oleh Sanjaya untuk pemujaan lingga diatas Gunung Wukir, jadi simbol sudah dikalahkannya raja-raja kecil di sekelilingnya yang dahulu mengaku kemaharajaan Sanna. 

Sesudah Raja Sanjaya meninggal dunia, ia digantikan oleh putranya bernama Rakai Panangkaran. Panangkaran mensupport ada perubahan agama Buddha. Dalam Prasasti Kalasan yang berangka th. 778, Raja Panangkaran sudah menghadiahkan tanah serta memerintahkan membuat satu candi untuk Dewi Tara serta satu biara untuk beberapa pendeta agama Buddha. Tanah serta bangunan itu terdapat di Kalasan. Prasasti Kalasan juga menjelaskan kalau Raja Panangkaran dimaksud dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Raja Panangkaran lalu mengubahkan pusat pemerintahannya ke arah timur. 

Raja Panangkaran di kenal jadi penakluk yang gagah berani untuk musuh-musuh kerajaan. Daerahnya jadi bertambah luas. Ia juga dikatakan sebagai permata dari Dinasti Syailendra. Agama Buddha Mahayana saat itu berkembang cepat. Ia juga memerintahkan dibangunnya bangunan-bangunan suci. Umpamanya, Candi Kalasan serta arca Manjusri. 

Sesudah kekuasaan Penangkaran selesai, muncul masalah dalam keluarga Syailendra, karna ada perpecahan pada anggota keluarga yang telah memeluk agama Buddha dengan keluarga yang masih tetap memeluk agama Hindu (Syiwa). Hal semacam ini menyebabkan perpecahan didalam pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno. Satu pemerintahan di pimpin oleh tokoh-tokoh kerabat istana yang berpedoman agama Hindu berkuasa di daerah Jawa sisi utara. Lalu keluarga yang terdiri atas tokoh-tokoh yang beragama Buddha berkuasa di daerah Jawa sisi selatan. Keluarga Syailendra yang beragama Hindu meninggalkan bangunanbangunan candi di Jawa sisi utara. Umpamanya, candi-candi kompleks Pegunungan Dieng (Candi Dieng) serta kompleks Candi Gedongsongo. Kompleks Candi Dieng menggunakan namanama tokoh wayang seperti Candi Bima, Puntadewa, Arjuna, serta Semar. 

Sesaat yang beragama Buddha meninggalkan candi-candi seperti Candi Ngawen, Mendut, Pawon serta Borobudur. Candi Borobudur diprediksikan mulai dibuat oleh Samaratungga pada th. 824 M. Pembangunan lalu dilanjutkan pada jaman Pramudawardani serta Pikatan. 

Perpecahan didalam keluarga Syailendra tidak berjalan lama. Keluarga itu pada akhirnya menyatu kembali. Hal semacam ini diikuti dengan perkawinan Rakai Pikatan serta keluarga yang beragama Hindu dengan Pramudawardani, putri dari Samaratungga. Perkawinan itu berlangsung pada th. 832 M. Kemudian, Dinasti Syailendra menyatu kembali dibawah pemerintahan Raja Pikatan. 

Sesudah Samaratungga meninggal dunia, anaknya dengan Dewi Tara yang bernama Balaputradewa tunjukkan sikap menentang pada Pikatan. Lalu berlangsung perang persaingan perebutan kekuasaan pada Pikatan dengan Balaputradewa. Dalam perang ini Balaputradewa buat benteng pertahanan di perbukitan di samping selatan Prambanan. Benteng ini saat ini sangka kenal dengan Candi Boko. Dalam pertempuran, Balaputradewa tertekan serta melarikan diri ke Sumatra. Balaputradewa lalu jadi raja di Kerajaan Sriwijaya. 

Kerajaan Mataram Kuno daerahnya jadi bertambah luas. Kehidupan agama berkembang cepat th. 856 Rakai Pikatan turun takhta serta digantikan oleh Kayuwangi atau Dyah Lokapala. Kayuwangi lalu digantikan oleh Dyah Balitung. Raja Balitung adalah raja yang paling besar. Ia memerintah pada th. 898 - 911 M dengan titel Sri Maharaja Rakai Wafukura Dyah Balitung Sri Dharmadya Mahasambu. Pada pemerintahan Balitung bagianbidang politik, pemerintahan, ekonomi, agama, serta kebudayaan alami perkembangan. Ia sudah membuat Candi Prambanan jadi candi yang anggun serta megah. Relief-reliefnya begitu indah.

Setelah pemerintahan Balitung selesai, Kerajaan Mataram mulai alami kemunduran. Raja yang berkuasa sesudah Balitung yaitu Daksa, Tulodong, serta Wawa. Sebagian aspek yang mengakibatkan kemunduran Mataram Kuno diantaranya ada bencana alam serta ancaman dari musuh yakni Kerajaan Sriwijaya. 

Perseteruan takhta periode Jawa Tengah 

Pada saat pemerintahan Rakai Kayuwangi putra Rakai Pikatan (sekitaran 856 – 880–an), diketemukan sebagian prasasti atas nama raja-raja beda, yakni Maharaja Rakai Gurunwangi serta Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra. Hal semacam ini tunjukkan bila ketika itu Rakai Kayuwangi tidaklah hanya satu maharaja di Pulau Jawa. Sedang menurut prasasti Mantyasih, raja setelah Rakai Kayuwangi yaitu Rakai Watuhumalang. 

Dyah Balitung yang disangka adalah menantu Rakai Watuhumalang berhasil mempersatukan kembali kekuasaan semua Jawa, bahkan juga hingga Bali. Pemerintahan Balitung selesai karna berlangsung kudeta yang dilancarkan oleh Mpu Daksa yang mengakui jadi keturunan asli dari Sanjaya. Ia sendiri lalu digantikan oleh menantunya, bernama Dyah Tulodhong. Tidak di ketahui dengan tentu alur terjadinya sistem suksesi ini jalan. Tulodhong pada akhirnya tersingkir oleh pemberontakan Dyah Wawa yang terlebih dulu mempunyai jabatan jadi pegawai pengadilan. 

Permusuhan dengan Sriwijaya 

Terkecuali kuasai Medang, Wangsa Sailendra juga kuasai Kerajaan Sriwijaya di pulau Sumatra. Hal semacam ini diikuti dengan diketemukannya Prasasti Ligor th. 775 yang mengatakan nama Maharaja Wisnu dari Wangsa Sailendra jadi penguasa Sriwijaya. Hubungan senasib pada Jawa serta Sumatra beralih jadi permusuhan saat Wangsa Sanjaya bangkit kembali memerintah Medang. Menurut teori de Casparis, sekitaran th. 850, Rakai Pikatan bisa singkirkan anggota Wangsa Sailendra bernama Balaputradewa. 

Balaputradewa lalu jadi raja Sriwijaya dimana ia tetaplah menaruh dendam pada Rakai Pikatan yang sudah singkirkannya. Perselisihan pada ke-2 raja ini berkembang jadi permusuhan dengan turun-temurun pada generasi selanjutnya. Diluar itu, Medang serta Sriwijaya juga berkompetisi untuk kuasai jalan raya perdagangan di Asia Tenggara. Rasa permusuhan Wangsa Sailendra pada Jawa selalu berlanjut bahkan juga saat Wangsa Isana berkuasa. Pada saat Mpu Sindok mulai periode Jawa Timur, pasukan Sriwijaya datang menyerangnya. Pertempuran berlangsung di daerah Anjukladang (saat ini Nganjuk, Jawa Timur) yang dimenangkan oleh pihak Mpu Sindok. 

Momen Mahapralaya 

Mahapralaya yaitu momen hancurnya istana Medang di Jawa Timur berdasar pada berita dalam prasasti Pucangan. Th. terjadinya momen itu tidak bisa di baca dengan terang hingga keluar dua versus pendapat. Beberapa sejarawan mengatakan Kerajaan Medang roboh pada th. 1006, sedang yang lain mengatakan th. 1016. Raja paling akhir Medang yaitu Dharmawangsa Teguh, cicit Mpu Sindok. Kronik Cina dari Dinasti Song mencatat sudah sekian kali Dharmawangsa kirim pasukan untuk menggempur ibu kota Sriwijaya mulai sejak ia naik takhta th. 991. Permusuhan pada Jawa serta Sumatra makin memanas waktu itu. 

Pada th. 1006 (atau 1016) Dharmawangsa lengah. Saat ia membuat pesta perkawinan putrinya, istana Medang di Wwatan diserang oleh Aji Wurawari dari Lwaram yang diprediksikan jadi sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam momen itu, Dharmawangsa tewas. Tiga th. lalu, seseorang pangeran berdarah kombinasi Jawa–Bali yang lolos dari Mahapralaya tampak membuat kerajaan baru jadi lanjutan Kerajaan Medang. Pangeran itu bernama Airlangga yang mengakui kalau ibunya yaitu keturunan Mpu Sindok. Kerajaan yang ia dirikan lalu umum dimaksud dengan nama Kerajaan Kahuripan. 

Peninggalan Sejarah 

Terkecuali memiliki peninggalan histori berbentuk prasasti yang menyebar di Jawa Tengah ataupun Jawa Timur, Kerajaan Medang (Mataran Kuno) juga membuat banyak candi, baik itu yang bercorak Hindu atau Buddha. Temuan Wonoboyo berbentuk artifak emas yang diketemukan th. 1990 di Wonoboyo, Klaten, tunjukkan kekayaan serta kehalusan seni budaya kerajaan Medang. 

Candi peninggalan Kerajaan Medang diantaranya, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Sambisari, Candi Sari, Candi Kedulan, Candi Morangan, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Sojiwan, serta Candi Borobudur. 

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno berbentuk Prasasti :. 
Prasasti Kalasan, diketemukan di desa Kalasan Yogyakarta berangka th. 778 M, ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) serta bhs Sansekerta. 

Prasasti Klurak diketemukan di desa Prambanan berangka th. 782 M ditulis dalam huruf Pranagari serta bhs Sansekerta berisi bercerita pembuatan arca Manjusri oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggrama dan anjaya.

Prasasti Canggal, prasasti ini di dapatkan di halaman Candi Guning Wukir di lokasi desa Canggal memiliki angka th. 732 Masehi. ditulis dengan huruf pallawa serta berbahasa Sansekerta. Prasati ini diisi mengenai narasi pendirian Lingga (atau simbol Syiwa) di lokasi desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya diluar itu prasasti ini bercerita kalau ada seseorang raja yang memimpin pulau jawa sebelumnya dianya yang bernama Sanna yang lalu digantikan oleh Sanjaya. 

Prasasti Mantyasih diketemukan di Mantyasih Kedu, Jateng, berangka th. 907 M yang memakai bhs Jawa Kuno. Isi dari prasasti itu yaitu daftar silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Bality yakni Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalang, serta Rakai Watukura Dyah Balitung. Karenanya prasasti Mantyasih/Kedu ini dimaksud dengan prasasti Belitung.
banner
Previous Post
Next Post

0 komentar: