Thursday, January 11, 2018

KUMPULAN ASAL USUL DESA di CIREBON

Ki GEDE DAN DESA (CIREBON)


ASAL-USUL DESA CUPANG

asal mula nama Cupang (Desa Cupang) beberapa orang menyebutkan, datang dari suku kata Cu serta Pang, yang mangandung makna Cu datang dari kata Cukup serta Pang datang dari kata Pangan. Jadi Cupang berasal atau di ambil dari nama ikan, yakni ikan Cupang (Ikan Tempele).
Pada jaman dulu di tempat saat ini yang dimaksud Cantilan Desa Cupang hidup sepasang suami – istri bernama kakek serta nenek Dawud yang datang dari Mesir yang lebih di kenal dengan sebutan Buyut Dawud. Buyut Dawud hidup satu hari dari hasil menangkap ikan lewat cara nyeser atau mungkin dengan langkah menempatkan bubu disungai. Dari hasil tangkapan itu Buyut Sawud hidup berkecukupan.

Disuatu hari kakek Dawud pergi kesungai untuk mengangkat bubu (alat penangkap ikan) bukanlah main tercengangnya karna tidak seperti umumnya, saat bubunya diangkat nyatanya didalamnya cuma seekor ikan kecil berwarna merah, yakni ikan Tempele atau dimaksud juga ikan Cupang.
Kakek Dawud pulang, lalu ikan kecil itu diserahkan pada nenek Dawud, oleh nenek Dawud ikan itu dimasukan dalam kuali, anehnya dalam kuali ikan itu jadi membesar hingga memenuhu kuali serta dalam kondisi telah mati.

Lihat peristiwa itu kakek Dawud melarang ikan itu dibuat, oleh kakek Dawud ikan itu setelah itu dibungkus kain putih serta dikubur didekat pohon asam samping barat balai Desa Cupang yang lama. Kuburan itu saat ini di kenal dengan sebutan Ki Buyut Cupang.
Sesudah kakek serta nenek Dawud wafat, mereka dikubur didekat kuburan itu serta sejak saat itu kampong itu dinamakan kampung Cupang.

ASAL USUL DESA BUDUR CIWARINGIN

Nama Budur tidak terlepas dengan nama Ki Brajanata. Mengapa awalannya dapat demikian?
Ki Brajanata hidupnya ada zaman Prabu Siliwangi, Ki Brajanata tidak sempat hidup tinggal, Ki Brajanata sukanya hidup mengembara sesuka hati. Sesungguhnya banyak kerajaan yang memohon Ki Brajanata untuk tinggal di kerajaannya untuk mengajarkan pengetahuan kanuragan atau untuk jadi penasehat Raja Sebab Ki Brajanata itu di kenal sakti mandraguna, tubuhnya besar serta tinggi, kekar serta ganteng (rambutnya lurus hitam panjang, kulitnya sawo masak) dan sifatnya bijaksana di semua masalah, serta suka guyon. Ki Brajanata ada yang tawarkan pangkat, jabatan dan lain-lain hanya tersenyum... serta mengucap terima kasih lantas pergi.

Ki Brajanata sehari-harinya mengembara mencari pengalaman serta pengetahuan sembari menolong bila ada rakyat yang tertindas.

Hingga datang di eranya Syekh Syarif Hidayatullah yakni cucunya Prabu Siliwangi. Ki Brajanata mulai tinggal di satu diantara rimba yang beliau sebut dengan nama SURA. sebab saat pertama tinggal di rimba itu berada di bln. satu (bln. satu jawa namanya Sura/bln. Islam islam As-Sura) maka dari itu rumahnya dimaksud Sura. Ki Brajanata buat gubug di pinggir sumur yang ada kayu malangnya.. Sumur itu di zaman dulu jadi tempat mandi serta keperluannya beberapa bidadari yang turun dari kahyangan.. (hanya saat ini sumur itu dimaksud Sumur Kayu Walang).
Disalah sehari.. Ki Brajanata melancong.. Ki Brajanata datang di satu diantara langgar (langgar/tajug/musholla. Tajug yakni tempat yang kudu dijugjug. Musholla yakni tempat sholat), hanya Ki Brajanata tidak ingin masuk, inginnya cuma mencari pengertian dari luar saja.. dari jauh Ki Brajanata dengarkan Syekh Syarif Hidayatullah sekali lagi memberi ceramah/saran pada rakyat Cirebon, mengulas problem syahadat serta sholawat..

Didalam langgar mendadak Syekh Syarif Hidayatullah mengucap salam : ''Assalamu'alaikum... Ki.. janganlah ngaji kuping saja.. silakan masuk.. ''

Rakyat Cirebon yang ada di dalam langgar begitu kaget serta heran mendadak Syekh Syarif Hidayatullah mengucap salam serta bicara demikian untuk seorang? mengucap salam serta bicara sama siapa fikir mereka?

Satu diantara Rakyat Cirebon ajukan pertanyaan pada Syekh Syarif Hidayatullah : ''Kanjeng mengucap salam serta bicara dengan siapa? sedang yang ngaji telah berada di dalam semuanya? ''.
Syekh syarif Hidayatullah menjawab : ''diluar ada sema/tamu''
Syekh Syarif Hidayatullah memanglah insan yang " weruh ing sejeroe Winara ".
saat Syekh Syarif berdiri serta mendekati Ki Brajanata.,
Ki Brajanata tersenyum serta jadi cepat cepat lari...
Syekh Syarif Hidayatullah atau yang lebih Sunan Gunung Djati turut tersenyum lihat kelakuannya Ki Brajanata.

Syekh Syarif Hidayatullah dengan Ki Brajanata keduanya sama tahu... jadi tidak sakit hati.
Rakyat Cirebon ajukan pertanyaan pada Syekh Syarif Hidayatullah : ''Kanjeng siapa sejatinya aki-aki gagah ingin? ''
Syekh Syarif Hidayatullah menjawab : ''Sejatinya aki-aki gagah itu insan BUDUR (berarti Lebih, Linuwih atau bhs Arabnya Purnama yang menyinari).
Sejak saat itu wong Cirebon bila mengatakan tempatnya Ki Brajanata dengan sebutan Budur.

ASAL USUL DESA SINDANG LAUT

Desa Sindang Laut yaitu satu diantara desa tertua di Cirebon, hal semacam ini didasarkan pada pertimbangan kalau leluhur orang-orang Sindanglaut telah ada mulai sejak dulu sebelumnya berdiri Kerajaan CarubanCirebonyang menurut system jaman beberapa wali dimaksud jaman Dupala.
Sebelu agama islam berkembang Desa Sindanglaut ini dahulunya adalah satu pedukuhan yang bernama Pedukuhan''DUKUH AWI''Dukuh berarti daerah atau tempat tempat tinggal serta Awibhs Sunda berarti Bambu. jadi ''Dukuh Awi''berarti daerah berbambu/tempat tumbuhan bambu, nama itu terkait dengan kondisi alam di Sindanglaut yang memanglah hingga sekarang ini terdapat banyak tanaman bambu/awi yang macamnya berbagai macam.
Pada awal penebaran agama islam, Pangeran Walangsungsang / Pangeran Cakrabuana / Ki Somadullah / Haji Abdullah Iman/Pangeran Sapujagat/Ki Kuwu Caruban II berhasil menaklukan kerajaan-kerajaan kecil di lokasi Cirebon yang beragama Hindu atau Budha. oleh karna kesuksesannya tersebut beliau memperoleh sebutan Pangeran Sejagat, satu diantara negeri/kerajaan yang berhasil di taklukannya yaitu Negri Japurasekarang dimaksud Astanajapurayang adalah sisi dari Kerajaan Galuh, kerajaan Japura ketika itu di Pimpin oleh Prabu Amuk Marugul Sakti Mandraguna karna populer juga akan kesaktiannya.
Sesudah menaklukan Negri Japura, Pangeran Sapujagat dengan beberapa prajurit berkunjung di Dukuh Awi persisnya di Sindang Pncuran saat ini, sedang pusat Pedukuhan Dukuh Awi terdapat di ujung Barat yang saat ini di kenal dengan sebutan Sindang KosongDaerah Dangdeur.
Mengenai tempat persinggahan Pangeran Sapujagat serta beberapa prajurinya itu dimaksud Sindang Pancuran, karna di tempat itu ada mata air yang memancar yang diketemukan oleh Pangeran Sela Ganda serta Pangeran Sela Rasa, dengan pertimbangan kalau mata air itu adalah sumber kehidupan orang-orang, jadi diadakanlah musyawarah beberapa tokoh Dukuh Awi, yaitu :
- Pangeran Cakrabuana/Ki Kuwu Caruban II/Pangeran Sapujagat
- Pangeran Kuningan
- Pangeran Gelang
- Pangeran Galing
- Pangeran Sela Ganda
- Pangeran Sela Rasa
- Pangeran Demas
- Pangeran Selaka
- Patih Nurzaman
- Syekh Bakir
- Ki Bagus Tapa
- Ki Syi'ah
- Ki Sumur Tutup
- Mbah Pulung
- Nyi Sondhara
- Nyi Sondhari
- Nyi Subanglarang/Nyi Subang Krancang
- Nyi Randa Embat Kasih
Dari hasil musyawarah yaitu orang-orang yang tinggal di Sindang KosongDaerah Dangdeurdipindahkan ke tempat yang dekat dengan mata air Pancuran tersebut pusat Pedukuhannya kesebelah Timur sungai CiPutihsekarang termasuk juga Blok Manis, hal semacam ini untuk memperluas hubungan dengan Pedukuhan beda dan untuk membuat lancar sistem Islamisasi, dalam musyawarah itu disetujui juga kalau nama Duku Awi dirubah dengan nama Sindanglaut yang berarti tempat persinggahan Pangeran Sapujagat/Ki Kuwu Caruban II dengan Prajurit.
Sesudah sebagian lama Pangeran Sapujagat dengan beberapa prajuritnya berkunjung beristirahat di Sindang Pancuran, beliau meneruskan perjuangannya menebarkan islam ke lokasi beda. Supaya tidak menyebabkan keraguan dari pihak lawan, pra prajurit diperintahkan menyamar jadi rakyat umum serta atas saran Patih Nurzamanasal Campayang sudah gabung dengan prajurit Pangeran Sapujagat beberapa prajurit itu mengubur beberapa persenjataan serta perbekalannya.
Kuburan persenjataan serta alat perbekalan Pangeran Sapujagat serta beberapa prajurit itu saat ini masih tetap berada di areal pemakaman Sindang Pancuran, yang dengan mata air Pancuran peninggalan Pangeran Sapujagat masih tetap dikeramatkan oleh beberapa orang-orang, untuk penuhi keperluan air untuk masyarakat dibuatlah Pancuran ke-2 yang berada disamping selatan pancuran pertama.
Didalam perubahan setelah itu, pusat Pemerintahan Desa Sindanglaut sudah 3x beralih tempat yaitu :
1. Di Sindang KosongDangdeur jadi pusat Pedukuhan Dukuh Awi
2. Di Sindang TengahSekarang termasuk juga Blok Manis
3. Di Sindang Tengah sisi TimurSekarang termasuk juga Blok Pahing
Pindahnya pusat Pemerintahan dari Sindang Tengah sisi BaratBlok Maniske sisi TimurBlok Pahingitu berlangsung sekitaran th. 1811 pada zaman Pendudukan Refles/Inggris di Indonesia, dengan argumen untuk mempermudah hubungan/komunikasi antar desa beda serta antar desa dengan Kota.

ASAL USUL DESA CILESUG

Untuk mengamankan daerah dari beberapa orang yang tidak ingin masuk islam, Ki Bledug Jaya memohon dikirimi prajurit kuat dari Caruban Larang untuk melatih beberapa pemuda serta beberapa orang dewasa masyarakat Pagedangan. Sesudah pertolongan pasukan datang, mereka melatih masyarakat Pagedangan disuatu tempat, hingga tempat itu jadi berdebuledug-bahsa Jawasampai-sampai airCai-bhs Sundayang juga akan dipakai untuk mandi, membersihkan serta minum bercampur ledugdebuakhirnya tempat latihan itu populer dengan sebutan Ciledug sampai saat ini.
Untuk penuhi keperluan Keraton Cerbon, Ki Bledug Jaya diperintahkan oleh Syarif HidayatullahSunan Gunungjati supaya berdiam di Keraton Caruban Larang, namun pada hari Senin serta Kamis Ki Bledug Jaya diperbolehkan untuk lihat daerahnya. Beberapa orang masih tetap yakin kalau hingga saat ini Ki Bledug Jaya pada hari Senin serta Kamis ada di Ciledug. Pada hari Senin serta Kamis beberapa orang datang berziarah ke tempat itu.

Pada era ke 15 daerah Pagedangan termasuk juga Lokasi Kerajaan Galuh yang kuasai daerah Jawa Barat hingga batas CipamaliSungai ini saat ini jadi batas pada Provinsi Jawa Barat serta Jawa Tengah. Agama yang di anut oleh orang-orang saat itu umumnya berpedoman agama Hindu-Budha dampak dari luar daerah. Ketika itu, di Cirebon sudah berkembang agama islam yang diperkembang oleh Pangeran WalangsungsangMbah Kuwu Cerbon, putra Prabu Siliwangi penguasa Kerajaan Galuh/Pajajaran. Dalam rencana meningkatkan/mensiarkan agama islam, Pangeran Walangsungsang dibantu oleh putra Nyai Rarasantang adiknya yang bernama Syarif Hidayatullah yang lalu populer dengan sebutan Sunan Gunungjati. Dengan terdapatnya Pangeran Walangsungsang menebarkan agama islam, jadi lokasi Kerajaan Galuh diliputi rasa kecemasan, beberapa sesepu Galuh yang beragama Sanghiang terasa kehilangan wibawa serta keyakinan dari masyaraktnya, diantaranya Ki Arya Kidang Monitoran yang tengah kecewa karna salah seseorang anaknya yang bernama Raden Layang Kemuning mengundurkan diri jadi Pepatih Kerajaan Galuh, meninggalkan semua kebesaran serta pergi mengembara tanpa ada pamit, sedang tempat maksudnya juga tidak di ketahui rimbanya, untuk mencarinya Ki Arya Kidang Monitoran mengutus Nyi Ratu Layang Sari adik Layang Kemuning.

Dalam pengembaraannya, Raden Layang Kemuning tinggal serta berdiam menyendiri di satu tempat di pinggir Sungai Ci Sanggarung, ia menyamar jadi tukang nyarahmengambil kayu yang tenggelam di sungai serta bertukar nama dengan nama Malewang. Disuatu hari, langit mendung, halilintar bergelegar serta turunlah hujan yang begitu deras seperti ditumpahkan dari langit, karena hujan lebat Sungai Ci Sanggarung banjir mendadak Airnya menggemuruh serta berkali-kali menghanyutkan semua yang menghambat, termasuk juga badan Ki Malewang yang tengah nyarah turut tenggelam, dalam kondisi pingsan ia terdampar di daerah Pagedangan, tidak ada selembar kainpun yang menempel di badannya, karna saat nyarah bajunya ditempatkan di pinggir SungaiTempat terdamparnya Ki Malewang saat ini bernama Pelabuhan.

Ratu Layang Sari yang di utus ayahandanya untuk mencari kakaknya yang bernama Raden Layang Kemuning belum juga memperoleh hasil, pada akhirnya sampailah ditempat Ki Malewang terdampar, lihat ada badan seseorang lelaki yang tergeletak di pinggir sungai dalam kondisi tanpa ada baju, jadi hasrat untuk membantu diurungkan, namun ia melemparkan selendang untuk menutupi badan yang tergeletak itu, lau ia meninggalkan tempat itu dengan tidak menduga kalau yang tergeletak yaitu badan Kakanya yang sampai kini ia mencari. Sesudah Ki Malewang sadar dari pingsannya, bukanlah main kagetnya ada ditempat itu dalam kondisi telanjang, cuma tertutup selembar selendang, ia juga bertanya-tanya dalam hati, siapa orang yang sudah menutupi tubuhnya dengan selendang itu.

Di Pagedangan itu Ki Malewang membuatt gubuk untuk rumah, serta pohon-pohon di sekelilingnya ditebang untuk jadikan tempat pertanian, daerah pinggir sungai Cisanggarung tempat tempat tinggal Ki Malewang itu begitu subur, hingga beberapa orang berdatangan ke tempat itu, serta lama kelamaan ramailah daerah Pagedangan banyak penghuninya, sebagian tahu lalu, datanglah enam orang utusan dari kerajaan Galuh sesudah mendengar kehadiran Raden Layang Kemuning di Pagedangan dengan maksud supaya Raden Layang Kemuning ingin kembali pada Kearajaan Galuh, namun Raden Layang KemuningKi Malewangmenolak, bahkan juga orang utusan itupun menginginkan tinggal di Pagedangan dengan maksud mengabdi pada Raden Layang Kemuning meningkatkan Pedukuhan.
Ke-6 orang itu yaitu :
1. Ki Gagak SingalagaKi Gatot Singalaga
2. Ki Angga Paksa
3. Ki Angga Raksa
4. Ki Kokol
5. Ki Jala RawaKi Sekar Sari
6. Nyi Godong LamarantiDisebut Nyai
Saat Mbah Kuwu Cerbon ketahui kalau daerah samping timur ada satu Pedukuhan yang masih tetap berpedoman agama Sanghiang, jadi ia dengan pengikutnya mendatangi Pagedangan untuk mengemukakan agama islam, kehadiran Mbah Kuwu Cerbon di terima dengan baik oleh Ki Malewang, yang lalu ia bersama beberapa pengikutnya masuk agama islam dengan tulus.
Untuk menaikkan kepercayaan, Ki Malewang dengan pengikutnya mengangkat sumpah dimuka Mbah Kuwu Cerbon jadi bukti kesetiaannya memeluk agama islam, pada saat sumpah itu dikerjakan, mendadak langit mendung gelap tertutup mendung serta halilintar yang begitu dahsyat menyambar Ki Malewang, nada menggelegar : Bleduuuugdidaerah itu dimaksud Bledug. Badan Ki Malewang tetaplah tegar, tidak bergetar serta tidak beralih mulai sejak peristiwa itu Ki Malewang memperoleh titel ''Ki Bledug Jaya''.
Pada th. 1479 Syarif Hidayatullah diangkat Susuhunan di Caruban Larang, beliau memperluas Keraton Pakungwati serta juga akan dibangun Masjid Agung Sang Ciptarasa, karna membutuhkan kayu jati yang baik serta kuat, jadi Sinuhun memberikan tugas Ki Bledug untuk mencarikan Kayu Jati yang baik.
Dengan beberapa pengikutnya Ki Bledug Jaya menebang kayu di Bulak Kasubdaerah Dukuh Jeru-Brebesdan kirimnya ke Cirebon. Keunggulan serta sisa kayu yang di bawa ke Cerbon oleh Ki Bledug Jaya serta beberapa Pengikutnya di buat Bali yang besar. BalaiBalebesar itu dipakai untuk tempat bermusyawarah dalam rencana penebaran agama islam. DiBalai itu juga Mbah Kuwu Cerbon memimpin serta mengatur langkah penebaran agama islam, Balai itu lebih di kenal dengan sebutan Bale Kambang RanjangBale Kambangitu memiliki enam buah tiang penyangga, hal semacam ini ditujukan untuk kembali kenang jasa ke-6 pengikutnya yakni : Ki gagak Sigalaga, Ki Angga Paksa, Ki Angga Raksa, Ki Kokol, Ki Jalak Rawa serta Nyi Godong Lamaranti.
Bale Kambang ini terkecuali tempat musyawarah juga dipakai oleh ki Bledug Jaya untuk ambil sumpah beberapa orang yang baru masuk agama islam supaya tidak kembali pada agama Sanghiang.
Ki Bledug Jaya/Ki Malewang/Raden Layang Kemuning meninggal dunia di Cirebon serta atas Jasanya dalam penebaran agama islam beliau dimakamkan di Astana Gunungjati Blok Ganggong Pamungkuran.
Dari histori asal-usul Desa Ciledug ini mudah-mudahan anak cucu kita terutama daerah Ciledug juga akan mengenalnya tau juga akan histori desanya serta tidak lupa juga untuk mendoakan beberapa leluhur itu yang sudah berjasa sampai kini, mudah-mudahan bermanfa'at untuk kita semuanya.

ASAL – USUL DESA BABAKAN

Ki Gede Lamah Abang dari Indramayu yang populer dengan kesaktiannya, tengah memanggul pohon jati yang begitu besar dari daerah Gunung Galunggung untuk menolong pendirian masjid di Cirebon. Di dalam perjalanan ia dihadang seekor macan putih yang segera menyerangnya untuk merebut pohon jati dari panggulannya. Lihat seekor macan putih yang menginginkan merebut pohon jati dari panggulannya, Ki Gede Lemahabang tidak tinggal diam. Dengan sekuat tenaga ia menjaga jati yang dipanggulnya itu jangan pernah beralih tangan.
Terjadi persaingan perebutan pohon jati pada Ki Gede Lemahabang dengan seekor macan putih yang sesungguhnya yaitu jelmaan Ki Kuwu Cerbon. Maksud Ki Kuwu menghambat perjalanan Ki Gede Lemahabang, supaya pohon jati itu janganlah sangat cepat hingga ke Cirebon. Bila hal tersebut berlangsung, jadi pengetahuan kewalian mesti di ajarkan pada beberapa santri yang belum juga penuhi prasyarat untuk terima pengetahuan itu.
Persaingan perebutan pohon jati itu buat situasi ditempat itu begitu mengerikan. Ke-2 makhluk itu sama-sama keluarkan pengetahuan kesaktian, hingga menyebabkan prahara serta di sekitarnya banyak pohon yang rubuh. Pohon-pohon yang rubuh itu seperti terbabak benda tajam. Daerah tempat terjadinya momen itu lalu jadikan nama satu pedukuhan Babakan.
Saat selalu berlalu, rupanya kesaktian Ki Gede Lemahabang ada dibawah kesaktian Ki Kuwu Cerbon yang berwujud macan putih. Dia tidak mampu sekali lagi menjaga apa yang di panggulnya. Pohon jati itu hilang dalam panggulannya, berbarengan dengan hilangnya macan putih yang menghalang-halangi perjalanannya.
Saat ini pedukuhan Babakan sudah beralih jadi Desa Babakan dalam lokasi Kecamatan Ciwaringin. Desa Babakan terdapat di ujung samping barat, adalah daerah perbatasan Kabupaten Cirebon dengan Kabupaten Majalengka.
Memijak th. 1705, seseorang pengembara yang senantiasa menebarkan agama Islam bernama Syekh Hasanudin bin Abdul Latif datang dari Kajen Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon datang di pedukuhan Babakan. Di Pedukuhan Babakan Syekh Hasanudin membuat satu mushala kecil. Dimuka mushalahnya ada dua pohon jati yang begitu besar. Untuk kehidupan setiap harinya Syekh Hasanudin bertanam palawija di sekitaran tempat itu.
Dalam menyiarkan agama Islam, Syekh Hasanudin banyak memperoleh halangan, ejekan, cercaan, serta tantangan dari banyak daerah di sekelilingnya seperti dari Desa Budur, Pedukuhan Jati Gentong, Pedukuhan Tangkil yang berada di bawah kekuasaan Ki Gede Brajanata yang tidak ingin masuk Islam. Tantangan itu bahkan juga datang dari Pedukuhan Babakan tersebut, tetapi semuanya halangan itu tidak menurunkan kemauan Syekh Hasanudin menebarkan agama Islam.
Pada usianya yang sudah tua, Ki Gede Brajanata wafat dunia. Sepeninggal Ki Gede Brajanata, penebaran agama Islam yang dikerjakan Syekh Hasanudin alami perkembangan. Sudah banyak orang-orang yang ingin memeluk agama Islam serta memperdalam pengetahuan syariat Islam. Walaupun banyak pengikut-pengikut Ki Gede Brajanata yang selalu menentangnya tidak jadi pengahalang yang bermakna untuk Syekh Hasanudin untuknterus berjuang. Mushala yang kecil itu telah tidak dapat sekali lagi menyimpan beberapa orang yang menginginkan belajar pengetahuan. Beberapa santri setuju untuk membuat sekali lagi mushala yang semakin besar.
Ketika membuat mushala tersebut beberapa santri berikan julukan pada Syekh Hasanudin jadi gurunya dengan panggilan Ki Jatira, karna rutinitas gurunya itu beristirahat dimuka mushala dibawah dua pohon jati yang besar. Jati = pohon jati, serta ra = loro (dua).
Nama Ki Jatira jadi populer hingga ke pusat ajaran Islam yang berada di Amparanjati, Gunung Sembung. Demikian halnya nama Ki Jatira yang mengajarkan pengetahuan agama Islam serta pengetahuan kanuragan terdengar oleh pihak Belanda, yang dipandanganya juga akan membahayakan kekuasaanya di Cirebon.
Pada th. 1718, serdadu belanda datang serta menyerang padepokan Ki Jatira di Pedukuhan Babakan. Serangan itu memperoleh perlawanan yang sengit dari beberapa santri. Karna peperangan itu tidak seimbang, pada akhirnya beberapa santri bisa ditaklukkan serta padepokan Ki Jatira dihancurkan dibakar habis. Momen itu di kenal dengan nama Perang Ki Jatira, yang banyak mengorbankan beberapa santri, tewas jadi syuhada. Ki Jatira sendiri bisa diselamatkan oleh muridnya serta dibawa ke Desa Kajen.
Pada th. 1721, Ki Jatira datang sekali lagi ke pedukuhan Babakan untuk melanjutkan syiar Islamnya. Kehadirannya itu diterima senang oleh orang-orang, lalu th. 1722 Ki Jatira bersama orang-orang membuat kembali padepokan yang sudah hancur itu. Tempatnya dipindahkan ± 400 m ke samping selatan dari padepokan yang lama.
Ketenaran serta keharuman nama Ki Jatira yang mengajarkan pengetahuan agama Islam serta pengetahuan kanuragan, tercium sekali lagi oleh Belanda. Pada th. 1751 serdadu Belanda kembali menyerang padepokan Ki Jatira. Walau demikian terlebih dulu, gagasan Belanda itu telah di kenali oleh Ki Jatira. Hingga sebelumnya penjajah itu datang untuk menyerang padepokan, terlebih dulu Ki Jatira membubarkan beberapa santrinya serta Ki Jatira sendiri mengungsi ke Desa Kajen, menanti kondisi aman. Setibanya beberapa serdadu Belanda di padepokan Ki Jatira sudah kosong tak ada penghuninya. Untuk ke-2 kalinya padepokan Ki Jatira dibakar oleh serdadu Belanda.
Dalam pengungsiannya, Ki Jatira terkena penyakit pada usianya yang sudah uzur. Pada saat sakit, beliau berpesan pada keponakannya yang sekalian menantunya bernama Nawawi untuk datang ke Pedukuhan Babakan melanjutkan perjuangannya. Pada th. 1753 Ki Jatira meninggal dunia serta dimakamkan di Desa kelahirannya sendiri yakni Desa Kajen Kecamatan Plumbon.
Th. 1756, Ki Nawawi membuat satu mushala panggung yang begitu besar, memiliki bentuk mirip masjid. Jaraknya ± 300 m ke arah selatan dari padepokan Ki Jatira yang ke-2.
Th. 1810, pada periode cucu Ki Nawawi bernama Ki Ismail, beberapa santri mulai membuat tempatnya semasing yang di kenal dengan nama Pondokgede. Ki Ismail meninggal dunia th. 1916, pengasuh Pondokgede diteruskan oleh keponakannya yang menantunya bernama Kiai Muhamad Amin bin Irsyad, yang di kenal dengan sebutan Ki Amin Sepuh datang dari Desa Mijahan Kecamatan Plumbon. Pada saat itu Pondokgede menjangkau masa keemasan. Mushala yang dibuat Ki Nawawi pada th. 1769 resmi jadikan masjid. Pondokgede pada akhirnya di kenal dengan nama Pondok Pesantren Raudlatultholibin.
Th. 1952, pada saat agresi Belanda ke-2, Pondokgede waktu diasuh Ki Amin Sepuh terserang kembali oleh Belanda. Kitab suci serta kitab-kitab beda diobrak-abrik dan dibakar. Beberapa santri dengan Ki Amin Sepuh serta semua keluarganya mengungsi.
Dua th. lalu yakni th. 1954, Kiai Sanusi salah seseorang santri Ki Amin Sepuh datang ke Pondokgede serta membenahi kembali bangunan serta sisa-sisa kitab yang dibakar, hingga bangunan serta halaman Terlihat rapi kembali, th. 1955 Ki Amin Sepuh datang kembali pada Pondokgede dibarengi oleh beberapa santrinya untuk meneruskan evaluasi agama Islam, hingga meninggal dunianya pada th. 1972.
Sesudah meninggal dunianya Ki Sanusi pada th. 1986, pengasuh pondok dilanjutkan oleh Ki H. Fuad Amin hingga th. 1997. Dilanjutkan oleh K. H. Abdullah Amin hingga th. 1999. Ki Bisri Amin mengasuh pondok cuma satu tahun yakni dari th. 1999 – 2000. Saat ini Pondok Pesantren di asuh oleh K. H. Azhari Amin serta K. H. Zuhri Affif Amin, keduanya yaitu putra K. H. Amin Sepuh. Beliau berdua berusaha keras untuk tingkatkan pendidikan agama Islam, juga pendidikan umum yang lain diaplikasikan pada beberapa santrinya untuk bekal hidupnya didunia serta akhirat.
Awal mulanya Babakan cuma daerah pedukuhan yang disebut cantilan dari Desa Budur. Atas kehendak orang-orang, pada th. 1773 memisahkan diri dari Desa Budur jadi desa yang mandiri, yakni Desa Babakan. Kuwu yang pertama yaitu Surmi dari th. 1798 – 1830.

ASAL USUL DESA ARJAWINANGUN

Dalam pengembaraannya untuk mencari serta memperdalam agama islam, dua orang Padjajran Raden Walang Sungsang serta adiknya Nyi Rarasantang hingga ke Mesir menunaikan beribadah haji. Raden Walang sungsang pulang ke Cirebon dengan sebutan Haji Abdullah Iman, sedang Nyi Rarasantang tetaplah ada di Mesir karna sudah bertemumikan Syarif Abdullah seseorang Raja Mesir. Berputra dua oranng yakni Syraif Hidayahtullah serta Syarif Nurullah. Selang beberapa saat sesudah Syarif Hidayatullah dilahirakan, ayahandanya meninggal dunia.
Memijak umur dewasa, Syarif Hidayahtullah berpamitan pada ibunya pergi ke Cirebon sembari mencari guru untuk memperdalam ajaran Agama Islam. Di Cirebon berjumpa dengan uwaknya H. Abdullah Iman atau dimaksud juga Pangeran Cakra Buana yang sudah mempunyai seseorang putri bernama nyi Mas Pakung wati, dari prnikahannya dengan Nyai Endang Geulis. Syarif hidayahtullah dinikahkan dengan Nyi Mas Pakung wati serta menempati Keraton Pakung Wati dengan titel Sultan Syarif Hidayahtullah atas pemberian nama uaknya P. Cakra Buana.
Baru saja di Cirebon, Syarif Hidayahtullah pergi mengembara ke Negri Cina untuk menuntut pengetahuan serta menebarkan Agama Islam. Di Negeri Cina Syarif hidayahtullah begitu dihormati oleh orang-orang yang didatangi serta banyak juga yang berpedoman Agama Islam. Karna dipandang orang sakti serta begitu ramah dengan masyarakat.
Disuatu ketikas tejadi kebakaran di pembakaran keramik, didalam tempat tinggal yang menyala-nyala dirundung api, tidak ada seseorangpun yang berani menyelamatkan bayi yang masih tetap ada didalamnya. Dengan tenangnya Syarif Hidayahtullah masuk untuk menyelamatkan bayi lewat kobaran api yang menyala. Bayi bisa diselamatkan dengan kondisi fresh bugar, begitu halnya Syarif hidayahtullah, bajunya tidak terbakar sedikitpun. Masyarakat terkagum-kagum serta dia anggap orang sakti.
Momen itu terdengar Kaisar Cina yang jadikan dianya gusar serta geram. Jadi dibuatlah tipu muslihat, diundanglah Syarif Hidayahtullah ke Istana untuk menebak apakah putri An Liong Tien betul-betul memiliki kandungan atau tidak. Dikatakannya oleh Syarif Hidayahtullah kalau putri tuan besar memiliki kandungan. Awal mulanya Syarif Hidayahtullah juga akan terima hukuman yang berat dari kaisar karna diperut Putri An Liong Tin hanya satu bantal belaka yang ditempatkan di dalam perutnya, hingga persis seprti orang memiliki kandungan. Walau demikian dalam keputren seseorang emban menjerit-jerit kalau Putri An Liong tin betul-betul memiliki kandungan. Sesudah diliat oleh kaisar benar juga ada. Syarif hidayahtullah menyelusup keluar dari istana serta kembali pada Cirebon.
Putri An Liong Tin berpamitan pada ayahnya untuk mencari calon suaminya di Cirebon. Dalam pertemuannya di gunung jati putri An Liong tin dinikahi oleh Syarif Hidayahtullah serta di letakkan di daerah Luragung. Putri An Liong Tin di kenal juga dengan sebutan Ratu Petis, karna suka makan petis.
Saat Putri An Liong Tin melahirkan, bayi yang baru dilahirkan wafat dunia. Karna terasa kehilangan, Putri An Liong Tin mengangkat putra Ki Gede Luragung bernama Arya Kemuning, lalu namanya jadi Adipati Arya Kemuning.
Ketika memijak umur dewasa, Dipati Arya Kemuning yang sudah ditinggal ibunya meninggal dunia, pergi ke Gunung Jati untuk ayahandanya Sultan Syarif Hidayahtullah. Sulatan Syarif Hidayatullah menerimanya dengan sukai hati, lalu Dipati Arya kemuning ditugaskan untuk mengundang Suryadarma di Indramayu supaya datang ke Gunung Jati. 
Sekembalinya Arya Kemuning sesudah melakukan amanat ayahandanya, karna kelelahan, Dipati Arya Kemuning istirahat untuk melepas capek. Di tempat istirahat Dipati Arya Kemuning tersebut saat ini disebutnya Desa Arjawinangun.
Arjawinangun terbagi dalam dua kata yakni ARJA serta WINANGUN. Arja berarti bahagia serta Winangun berarti membuat atau sudah usai melakukan pekerjaan.

ASAL USUL DESA BAKUNG

Dalam penyamarannya Ki Kuwu Cirebon di Gunung Kumbang, tinggal di blok Ardi Lawet bergelar Abujangkrek. Disitu Ki Kuwu mempunyai dua orang putra yakni seseorang lelaki bernama Sela Rasa serta wanita bernama Sela Rasi.
Dijaman itu Ki Kuwu masuk daerah Telaga, berjumpa dengan seseorang bernama Ki Wanajaya. Ki Wanajaya di telaga yaitu seseorang yang sakti mandraguna, di Telaga itu belumlah ada tandingannya. Dalam pertemuannya dengan Ki Kuwu, terjadi selisih memahami sampai berlangsung perkelahian. Perkelahian dua orang sakti itu berlangsung lama sekali, semasing mencari kekurangan lawannya. Namun belum juga seseorangpun yang tunjukkan kekurangan agar bisa dirobohkan salah seseorang salah satunya.
Disuatu waktu diserangnya Ki Wanajaya dengan ajian Nini Badong yang bermanfaat keluarkan udara dingin mengagumkan. Ki kuwu mengarahkan ajian itu begitu pas tentang sasarannya, Ki Wanajaya jadi tidak berdaya. Ki Kuwu yang mempunyai jiwa ksatria, lantas menanti lawannya yang tidak berdaya serta tidak berani menyerangnya hingga mati. Nampaknya Ki Wanajaya sendiri rasakan, perlakuan lawannya tidak gampang bisa dilawannya. Ki Wanajaya menyerah minta ampun, serta Ki Kuwu dengan suka hati mengampuninya. Lalu Ki Wanajaya ikuti faham Ki Kuwu masuk agama Islam.
Karna pernyataan Ki Wanajaya, Ki Kuwu punya niat baik pada Ki Wanajaya supaya selanjutnya tetaplah dalam Islam. Disuruhkan pada Ki Wanajaya supaya memperistri putrinya yang bernama Sela Rasi. Ki Wanajaya memajukan keberatan berkenaan usianya sudah berjauhan dengan Sela Rasi. Ki Kuwu memberi pengetahuan pada Ki Wanajaya. Sesudah pengetahuan itu di terima, berubahlah muka Ki Wanajaya seperti seseorang perjaka. Ki Kuwu menyuruh Ki Wanajaya berkaca ke permukaan air supaya ketahui perubahan dianya. Tetapi di tempat itu tidak diketemukan satu balong juga, selekasnya Ki kuwu ditempatnya duduk mencungkil tanah, dari tanah yang dicungkilnya dipenuhi, timbullah satu balong yang airnya jernih sekali, Ki Wanajaya selekasnya berkaca di balong itu.
Ki Wanajaya tersenyum lihat tampangnya seperti perjaka kembali. Ki Kuwu menerangkan, engkau sudah kuberi Doa Janur Wenda yang sudah engkau hafalkan. Doa yang sudah engkau baca dipenuhi Allah, serta raut mukamu sudah kembali seperti perjaka.
Ki Kuwu tunjukkan ada binatang-binatang kecil yang dimaksud “Remis”, ada dipinggiran balong yang baru berlangsung itu. Balong ini baiknya dinamakan Telaga Remis, serta tanah cungkilannya bawalah. Ki Wanajaya menurut pada semuanya yang disebutkan Ki Kuwu. Ki Wanajaya lalu dijodohkan dengan Nyi Sela Rasi, di letakkan supaya berdiam di satu daerah yang dinamakan Bakung. Ki Wanajaya hidup rukun dengan istrinya Nyi Selarasi di Bakung. Tanah cungkilan Telaga Remis disimpannya disebuah tempat yang dinamakan Tegal Angker. Tanah itu terdapat di tapal batas blok Pager Toya serta Desa Suranenggala Kulon saat ini. Disebutkan juga oleh Ki Kuwu nantinya masa datang bila tanah di Tegal Angker dipertemukan dengan air yang datang dari Telaga Remis, tanah di sana juga akan jadi subur.
Berdasar pada narasi itu, pada saat jabatan Kuwu Bakung yang dipegang oleh Muh. Sidik, amanat itu sudah dibuktikannya. Kuwu Muh. Sidik coba mengupayakan terjadinya air dari sungai Jamblang bisa menembus hingga ke Tegal Angker. Usahanya dibantu oleh rakyat setempat peroleh hasil, lebih kurang th. 1970, air dari Telaga Remis hingga ke Tegal Angker. Yang sudah diamanatkan Ki Kuwu itu dapat dibuktikan serta membawa hasil, Tegal Angker adalah tanah yang subur.

ASAL USUL DESA GEYONGAN

Histori desa geyongan dengan tertulis serta akedemis hingga sekarang ini belumlah ada yang mendiskripsikan/mempelajari, tulisan ini didasarkan atas pinuturan serta narasi dari orang yang anggap diakui (H. Markina, Wa Mungkar serta Suryadi, saat ini ketiganya sudah Almarhum) dan bukti- bukti histori peninggalan kebudayaan sosial ekonomi orang-orang geyongan yang pernah penulis saksikan. Beberapa tempat yang dipandang jadi asal muasal nenek moyang masyarakat Desa Geyongan ada di 4 tempat masing -masing Pedukuhan Warakas, Gembur, Mijasem serta Kidas.
1. Pedukuhan Warakas.
Bukti histori kalau semula peradaban desa geyongan bermula dari daerah Warakas, Warakas itu adalah sisi lokasi dari Desa Geyongan yang saat ini letaknya samping timur jalan by pass Cirebon - Jakarta samping selatan dukuh Pupusbaya dekat bersebelahan dengan desa Sende. Dahulu sekitaran pertengahan era 18-an (17... M) di daerah Warakas ada satu komune santri (Pesantren) tidak di ketahui siapa pimpinan pesantrennya, makin lama komune itu berkembang jadi pesantren yang ramai karna beberapa orang yang menuntut pengetahuan (mengaji serta pengetahuan agama).
Disuatu saat di jalan (saat ini jalan by pass) berlangsung momen pembegalan/perampokan yang menyebabkan pembunuhan. Mulai sejak momen itu kehidupan di komune warakas terganggu karna pihak Pemerintah Kolonial Belanda menuduh kalau aktor perampokan itu yaitu masyarakat Warakas bahkan juga pihak kolonial Belada lakukan penindasan serta intimidasi pada masyarakat.
Untuk untuk hindari fitnah serta tuduhan pihak kolonial dan beberapa hal tidak dikehendaki, jadi komune Warakas beralih tempat yakni ke arah barat persisnya di tepian/bantaran Sungai Winong (Kali Wetan kata orang Geyongan) yang dahulu di kenal Pesantren Wetan itu. Bukti histori di Warakas ada komune hingga sekarang ini masih tetap ada sisa peningalannya berbentuk kuburan, demikian halnya yang berada di bantaran Kali Wetan juga ada sisa peninggalannya. Sesudah dibuatnya kali irigasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada th. 1901 (implikasi dari politik balas budi Belanda : Educasi, irigasi serta transmigrasi), jadi dengan makin lama makin masyarakat pesantren wetan yang ada bantaran sungai winong/kali wetan beralih ke tempat yang baru yang saat ini kita kenal dengan Jatilawang serta ada pula yang geser ke sebagian tempat di pedukuhan Geyongan.
2. Pedukuhan Gembur, Mijasem serta Kidas.
Sepertihalnya pedukuhan warakas, di pedukukan Gembur juga dulunya ada komune serta pada akhirnya kosong karna penduduknya pidah ke Desa Geyongan yang mungkin saja tanahnya lebih subur atau karna banyak penduduknya pindahan dari pedukuhan sekelilingnya. Pedukuhan gembur terdapat disamping selatan Ds. Geyongan saat ini dekat blok Pace.
Demikian juga pedukuhan Mijasem penduduknya banyak yang geser mungkin saja ke desa geyongan atau ke arjawinangun, jejak peninggalan pedukuhan mijasem masih tetap bisa diliat hingga saat ini berbentuk kuburan. Letak dari pedukuhan Mijasem saat ini masuk dalam desa Kebonturi dekat dengan Gedung Bioskop Pahala. Serta untuk pedukuhan Kidas saat ini terdapat di desa Kebonturi di blok Kidas, pedukuhan ini ditinggalkan penduduknya pindah ke desa Geyongan peninggalan yang masih tetap bisa diliat berbentuk makam serta belik.
Dengan makin banyak masyarakat dari pedukuhan yang beralih ke Geyongan makin ramai serta berkembanglah Desa Geyongan sampai sekarang ini, tengah pedukuhan makin ditinggal pergi penduduknya. Sesudah penduduknya makin ramai jadi ditunjuklah seseorang pemimpin atau yang kita kenal Kuwu (Kepala Desa).
Tak ada cacatan yang tentu kapan geyongan itu berdiri jadi Desa, berdasar pada catatan silsilah Kuwu di desa Geyongan Kuwu pertama yang memimpin Desa Geyongan yaitu Ki Pandu sekitaran pertengahan era 19 (1850 M), dengan kedudukan desanya bila saat ini berada di Tanahnya Man Wiat (Kakeknya Saki), satu tahun lebih lalu geser ke Tanahnya Man Jupri (Bapaknya Majaji) serta pada Th. 1923 geser ke Balai Desa yang saat ini dipakai, saat itu Kuwunya Ayah Wasura Dipraja. Kondisi balai desa Geyongan saat ini keadaan masih tetap begitu baik hanya ada menambahkan sedikit yakni pendopo serta jendela kaca.

ASAL USUL DESA GALAGAMBA

Pada sekitaran th. 1400-an disebuah kaki Gunung Kromong. Ada satu rimba belantara yang banyak ditempati oleh beberapa dedemit serta beragam binatang yang buas seperti macan, celeng dsb.
Disuatu tempat yang dimaksud Rajagaluh ada Kasatria bernama Kiwinata yang memiliki tubuh yang tegap serta penuh dengan sopan santun dan begitu sakti. Ki Winata lalu membuat satu gubug serta dijadikannya jadi rumah, bukan sekedar itu beliau juga buat balai dari kayu jati yang begitu besar sekali untuk tempat menjamu tamu. Makin hari tempat itu jadi begitu populer, lalu makin ramai. Ramainya tempat itu pada akhirnya mengundang perhatian serta Raja Pajajaran yang bernama Prabu Siliwangi. Pada akhirnya Raja Prabu Siliwangi itu datan dengan rombongan untuk berkunjung ke tempat itu. Saat tiba di tempat itu jadi diterimalah sang raja.
Prabu Siliwangi begitu terkagum dengan satu diantara balai yang besar itu. Prabu Siliwangi lalu ajukan pertanyaan pada Ki Winata apa nama pedukuhan itu? Jadi dijawab oleh Ki Winata bila pedukuhan itu belum juga dinamakan. Jadi lalu Sang Prabu berikan nama pedukuhan itu dengan nama “ GALAGAMBA ”. Gala berarti Balai sedang Amba yaitu luas jadi “ GALAGAMBA ” Ini berarti Balai yang luas atau besar.
Selepas kepergian sang prabu, Ki Winata wafat dunia, yang lalu dikuburkan disuatu tempat yang bernama Raga Sawangan. Raga Sawangan dulunya saat orang-orang menebang jati jadi esok harinya jati itu tumbuh kembali. Jadi Ki Winata terasa bertanggungjawab untuk bersihkan problem itu yang lalu menghadap Sunan Jati Purba.
Jadi sang Sunan serta Ki Winata berencana untuk menebang pohon itu dengan mulai berdoa. Jadi dalam pandangan mata bathin beliau jadi diliatnya ada raga yang bertumpu dipohon itu. Jadi sesudah raga itu diusir jadi pohon itu bisa ditebang hingga tempat itu di kenal dengan “ RAGA SAWANGAN ”.
Bukan sekedar di Blok Ragasawangan, di Blok Dukumire ada yang dimaksud dengan terdapatnya Pustaka Lawang Gada yang beberapa orang bisa memohon barokahnya. Serta satu diantara sebagai populer yaitu di Blok Nagrog dengan terdapatnya Harimau Siliwangi Putih yang sekarang ini masih tetap diakui serta masih tetap selalu berkeliling-keliling selama makam kompleks Masjid Al-Ikhlas yang pertama kalinya dibuat oleh Almukaromah Kiai Marjuki sekitaran th. 1800-an. Jadi satu diantara sesepuh beberapa Kiai yang berada di Babakan serta Kempek. Yang lalu dipugar dengan bentuk moderen oleh Kiai Tarmidi pada th. 1930-an yang saat itu pada saat Jepang menjabat jadi Kepala Kantor Agama Lokasi Cirebon yang membawahi Kuningan, Majalengka serta Indramayu.

 ASAL USUL DESA KALIWEDI

Ki Surya angkasa yaitu Putera dari istri selir Prabusiliwangi yang datang merantau dari Garit (pajajaran) untuk mencari saudaranya Walang sungusang (Ki Kuwu Sangkan) serta Nyimas Lara Santang tengah menuntut pengetahuan di Cirebon saat berkunjung di Astanya Pura, Ia memperoleh pengetahuan aji “Bandung Bandawoso” lalu menuju lokasi rimba yang didalamnya ada satu sungai yang penuh dengan pasir disamping barat laut untuk babat rimba serta jadikan “KALIWEDI”. “Kali” berarti satu sungai, “Wedi” dalam bhs jawa pasir. Ia lalu di kenal dengan nama Ki GEDE kaliwedi.
 Diisamping Titel KI Gede Kaliwedi Ki Surya Angkasa banyak mempunyai titel serta julukan, konon ia memiliki sebutan sampai 101 nama seperti Ki Tulus, Ki Jopak, Ki Agus, Ki Syeh mangku jati oleh karna ia saudara paling tua. Ki Kuwu Sangken jika membuat “Hajat Ngunjungan” senantiasa lebih dulu. Dengan diawali Astana Gunung Jati saat dalam perjalanan menunaikan beribadah Haji ke Mekah dengan menaiki “Mancung”. Ki Sureya Angkasa memperoleh serangan raksasa ombak selon dengan memakai “Bedama Pusaka” (jimat). Tombak sigagak tutuskan tombak itu ke perut raksasa sampai mati serta tombaknya tetaplah maenancap dipperut raksasa, sedang warangkahnya (sarungnya) bisa dibawa pulang sampai saat ini.
 Sebelumnya mati raksasa ombak selon itu sesambar juga akan membalas dendamterhadap keturunan Ki Surya Ankasa yang menunaikan beribadah haji lewat jalan laut serta melalui ombak selon, oleh karenanya beberapa orang Kaliwedi pantang menunuaikan beribadah haiji melalui dalan laut. Tetapi mulai sejak pemerintahan memakai angkutan jasa angkutan udara orang-orang Kaliwedi banyak yang menunaikan beribadah haji. Sesudah pertarungan yang melelahkan itu Ki Surya menerusakan perjalanannya untuk menunaikan beribadah haji di Mekah. Sekembalinya dari Mekah, Ia memperoleh titel Syah Mangkujati sesudah perjalanan ke Desa takut pernah lihat Putri Heuleut uang tengah mandi dikolam tanpa ada sehelai benang juga yang tampak di badannya. Lihat kondisi dedmikian timbullah dibirahi Ki Surya Angkasa oleh karenanya Ia sorang sakti mandraguna nafsu birahinya bisa di rendam, tetapi karena birahinya itu Putri takujt mejadi hamil makin lama kandungan sang heuleut jadi membesar sampai lahirnya seseorang anak lelaki. Rasa malu juga menekuni diri sang putri. Saat ini memiliki anak tidak berayah untuk menyingkirkan rasa malu itu dengan penuh haru. Anak yang baru dilahirkannya dibuang ke sungai Ciwaringin.
 Disebuah Desa (saat ini di Desa Gegesik Kulon) sorang wanita saat tengah jadi ikan disungai Ciwaringin ini peempuan yang bernama Nyimas Cupang itu mendadak dikejutkan dengan benda terapung (kambang) yang lewat di hadapandan makin kaget sesudah benda itu didalamnya diisi seseorang bayi lelaki yang masih tetap merah. Bayi merah yang lalu dinamakan Limbang berarti diketemukan di kali serta kambang itu dibawanya ppulang serta dirawat sebaik-baiknya jadi anugerah yang kuasa. Saat ini sudah cukup lama ia tinggal eorang diri sesudah ditinggal oleh suaminya.

 ASAL DESA GUWA, CIREBON

Ki Baluran yang dimaksud Ki Arga Suta atau Syeh Madunjaya yaitu salah seseorang putra Pangeran Gesang, demang dari kesultanan Cirebon. Dalam pembagian tanah cakrahan punya orang tuannya yang terdapat di samping utara perbatasan lokasi Cirebon serta Indramayu, berlangsung pertentangan pendapat dengan ke-3 saudaranya terlebih dengan adiknya Nyi Mertasari. Ke-2 saudara lelaki termasuk juga dianya memiliki pendapat kalau anak wanita cukup memperoleh sisi tanah sebesar payung. Pendirian itu ditentang Nyi Mertasari, karna menurut dia pembagian tanah mesti sama luas.
Untuk merampungkan perselisihan itu, Ki Kutub (Sunan Gunung Jati) mengurusi Ki Panunggulan yang ambil kebijakan dengan membuat sayembara yang di setujui beberapa putra Pangeran Gesang. “Barang siapa diantara mereka bisa menghadirkan beberapa jenis hewan seisi rimba, jadi tanah cakrahan ayahnya jadi kepunyaannya. “Secara berturut-turut ke-4 putra Pangeran Gesang itu keluarkan kesaktiannya dari mulai Ki Jagabaya, Ki Sumerang, Ki Baluran, serta paling akhir Nyi Mertasari.
Sebelumnya diawali adu kesaktian, Ki Baluran bersumpah akan tidak berperang serta mengadu kesaktian dengan siapa juga, pada saat tidak umum menandingi kesaktian Nyi Mertasari. Ki Baluran keluarkan kesaktian dengan menancapkan tongkat diatas tanah, serta tongkat itu menjelma jadi ular yang memiliki bentuk seperti kendang sampai diberi nama ular kendang. Nyi Mertasari memberikan tangannya ke kiri dank e kanan serta mengatakan beberapa jenis hewan seisi rimba, jadi berdatanganlah hewan-hewan yang disebutnya itu.
Sayembara pada akhirnya dimenangkan Nyi Mertasari, jadi sesuai sama bunyi sayembara semua tanah cakrahan jadi punya Nyi Mertasari. Tetapi karena musyawarah yang ditengahi Ki Warsiki serta atas restu ki Kutub, tanah cakrahan itu dibagi-bagi pada putra-putri Ki Gesang, di nama yang memastikan letak serta luas pembagian tanah yaitu Nyi Mertasari.
Ki Baluran memperoleh sisi tanah di samping barat. Awalilah Ki Baluran membabad rimba lewat cara membakarnya, jadi dengan dalam waktu relatif cepat rimba jadi lautan api, bahkan juga percikan apinya hingga ke pinggir pantai lokasi Indramayu, persisnya di daerah Eretan, hingga rimba di daerah itu beberapa ikit terbakar. Tempat tanah sisa pembakaran itu disadari orang-orang termasuk juga tanah cakrahan Ki Baluran.
Ki Baluran membuat pendukuhan serta hidup rukun damai bersama orang-orangnya. Disuatu saat datanglah ke pedukuhannya segerombolan perampok yang punya maksud menyatroni daerah itu. Oleh karna sumpahnya, Ki Baluran tidak ingin melayani beberapa perampok, terlebih menghindar pergi bersama keluarganya di satu tempat yang nantinya dimaksud Desa Guwa, tanah yang dilewati Ki Baluran bersama keluarganya mendadak membelah (terbuka) serta tutup/membuat perlindungan Ki Baluran bersama keluarganya, seperti bersembunyi didalam gua.
Keluar dari gua, Ki Baluran dikejar sekali lagi tetapi selalu menghindar kea rah utara sampai masuk lokasi Indramayu. Ia berteduh dibawah pohon asem, oleh karenanya tempat itu diberi nama Pondokasem.
Gerombolan pembegal masih tetap penasaran menginginkan bertanding dengan Ki Baluran, tetapi Ki Baluran tetaplah hindari lantas dengan keluarganya pergi menuju barat di sana ia hidup rukun, damai serta sejahtera menjumpai ketenangan. Tempat itu lantas dimakamkan Temuireng (ketemu pareng/temukan suatu hal yang di kehendaki).
Saat musim paceklik tiba, beberapa orang yang juga akan pergi ke Pasar Darsen seringkali lihat seseorang tua yang tidak ada beda Ki Baluran ada di satu gubug seperti tengah kelaparan. Oleh karna terasa iba, tiap-tiap pergi ke pasar mereka memberi jagung untuk makan, hingga lama kelamaan daerah itu populer dengan nama Tulungagung (di”tulung”dengan “jagung”).
Terasa tidak enak jadi beban orang yang lain, Ki Baluran pergi menuju ke arah selatan wilaya Cirebon serta berhenti di pedukuhan Bunder. Ia membuat sebidang tanah/sawah serta bercocok tanam, juga buat sumur untuk sumber penghidupan. Sesudah tinggal di Bunder, Ki Baluran selalu memonitor kondisi Guwa daerah aslinya, dengan mempergunakan tongkat yang menjelma jadi ular kendang.
Pada jaman penjajahan Belanda, Desa Guwa juga tidak luput dari serangan tentara Belanda serta sekutunya. Orang-orang Guwa semuanya melarikan diri melalui sungai (kali) yang airnya tengah meluap banjir. Ketika itu ular kendang punya Ki Baluran menjelma jadi WOT (jembatan) untuk nambak air banjir. Tempat itu populer dengan sebutasan Tambakwot, serta sampai saat ini walau air sungai meluap, airnya tidak sempat masuk ke pekarangan masyarakat.
Sesudah Desa Guwa kosong ditinggal penduduknya, Ki Gede Balerante mengutus anaknya Ki Sumbang untuk menepati Guwa Keasaan itu buat Ki Baluran tetaplah tinggal di Desa Bunder, tidak kembali pada Desa Guwa. Mendekati akhir hayatnya, Ki Baluran tinggal di kaliwedi. Dengan hal tersebut gingga saat ini sebagaian keturunannya ada di Kaliwedi, sedang masyarakat Desa Guwa yaitu keturunan Ki Sumbang. Desa Guwa dimekarkan pada th. 1982 jadi dua desa yaitu Desa Guwa Kidul serta Desa Guwa Lor.

ASAL USUL DESA GINTUNG TENGAH

Saat beberapa besar daerah Cirebon masih tetap tertutup rimba belantara, serta ajaran Hindu masih tetap diyakini oleh beberapa masyarakat Cirebon. Jadi ketika itu pulalah Mbah Kuwu Cirebon dengan dibantu rekan serta kerabatnya semangat menebarkan ajaran Islam. Sembari menebarkan agama tidak lupa juga membabat rimba serta buka pedukuhan-pedukuhan baru.
Tersebutlah nama Kyai Ageng Buyut Membah, seorang dari Negeri Iraq, yang datang ke Indonesia karna diutus oleh ayahandanya untuk menebarkan Agama Islam serta melakukan perbaikan akhlaq dan aqidah Bangsa Indonesia terutama didaerah Cirebon. 
Kyai Ageng Buyut Membah, diutus oleh ayahandanya tidak segera datang ke Tataran Cirebon, tetapi ke Pesantren Sunan Muria, serta ia berguru di sana. Dipesantren itu Kyai Ageng Buyut Membah berteman serta bersahabat dengan keturunan Sunan Muria yang bernama Raden Jaka Pendil. Dipesantren tersebut Kyai Ageng Buyut Membah memperoleh nama baru yakni Raden Suminta.
Teringat juga akan pesan ayahandanya yakni untuk menebarkan Agama Islam serta untuk melakukan perbaikan akhlaq dan moral masyarakat didaerah Cirebon yang porak poranda karna pertentangan Agama Hindu Budha dengan Agama Islam yang di ajarkan oleh Mbah Kuwu Cirebon serta kawan-kawan. Kyai Ageng Buyut Membah minta izin pada gurunya untuk pergi kedaerah Cirebon.
Dengan Raden Jaka Pendil, Kyai Ageng Buyut Membah pergi kedaerah Cirebon. Sebelumnya mereka berdua pergi, Sunan Muria berikan pesan supaya keduanya dalam perjalanan, ataupun sesampainya ditujuan supaya tetaplah ngaji Sufi (Pewalian) yang ada enam jenis yaitu seperti berikut : Diam, Janganlah sombong, Janganlah ugal-ugalan, Membuat perlindungan orang yang lemah, Perbanyak membaca Al-Qur’an, Janganlah bicara asal-asalan, serta mesti menirukan perilaku Sunan Muria yg tidak sempat batal wudlu.
Dalam perjalanan mereka berjumpa dengan Raden Jagalah Bodoh (Raden Suralaya) yang tengah diutus oleh ayahandanya yakni Sunan Gunung Jati untuk membabat Alas Roban. Tetapi tempat pertemuan itu saat ini wallahu a’lam atau hilang ditelan jaman. Lalu mereka bersama meneruskan perjalanan.
Pada th. 1545 M mereka mulai membabat rimba disamping barat Cirebon. Ketika itu Raden Jaka Pendil tengah mengamalkan doa Kanzil ‘Arasy, dari do’a itu menjelma satu pusaka kayu yang berwujud keris, kayu itu bernama Kayu Karas (yang lalu populer dengan sebutan ki Arasy). Di dalam pusaka Kayu Karas barusan ada qodam berbentuk jin muslimah serta berwujud seseorang wanita. Wanita ini dinamakan Larasati (lalu terkanal dengan sebutan Nyi Arasy).
Disamping itu Kyai Ageng Buyut Membah (Raden Suminta) memiliki pusaka Weling Barong, wujudnya tongkat berkepala naga, yang qodamnya diisi macan putih yang dinamakan si Bujang, Ular Buntung, juga mempunyai agem-agem merah delima, zamrud unjaman serta burung banjar petung yang qodamnya ada di telaga midang di Desa Bringin dan memiliki peliharaan berbentuk macan Blewuk. Kyai Ageng Buyut Membah, Raden Jaka Pendil serta Raden Jagalah bodoh bersama membabat rimba, kayu-kayu yang bergelimpangan serta semak-semak kering dibakar sampai kobaran api menyebar kemana saja.
Setelah rimba di tebang mereka mengatur tempat baru itu, termasuk juga buat sumur Pendawa. Nama pendawa hanya jadi kiasan belaka tak ada hubungan dengan pendawa lima. Lalu beberapa orang berdatangan turut tinggal didaerah baru itu, termasuk juga Ki Buyut Ipah serta Ki Buyut Rinten yang masih tetap bersaudara dari Kyai Ageng Buyut Membah dan datang turut tinggal tinggal didaerah yang baru itu.
Pedukuhan terjadi Kyai Ageng Buyut Membahlah yang jadi pemimpin, baik pemimpin agama ataupun pemerintahan. Jadi makin berkembang ajaran islam sesudah kehadiran Kyai Sembung (Kyai Somadullah) datang menolong.
Kyai Sembung yaitu seseorang tamu Kyai Ageng Buyut Membah yang datang dari desa Luga Lugina dari negara Syam (Syiria) untuk menebarkan agama islam. Karna ketika itu kondisi akhlak serta moral masih tetap terlantar.
Disebuah tempat ada satu pohon teduh yang bunganya berbau harum, masyarakat pedukuhan baru itu banyak serta seringkali memakai bunga harum itu untuk acara kendurian umpamanya : acara pernikahan, khitanan, nujuh bln. serta acara-acara yang lain.
Awal terjadinya pedukuhan baru itu, hingga saat ini di kenal dengan sebutan Bentuk, serta pohon yang dipakai bunganya oleh orang-orang barusan dinamakan POHON GINTUNG. Arti Gintung bisa disimpulkan seperti berikut : Gi=girang (sukai, riang-gembira), In=Ingsun (saya), Tung=tungkul (kerasan betah), jadi Gintung berarti Girang Ingsun Tungkul (saya suka serta kerasan di daerah baru) serta dari nama pohon berikut diabadikan jadi nama DESA GINTUNG, yakni pada th. 1554 M.
Setelah itu dibuatlah satu tempat pemerintahan baru yang ada ditengahnya dari pedukuhan itu, dinamakan dusun atau DESA GINTUNG TENGAH. Dengan Kyai Ageng Buyut Membah jadi pemimpin/kuwu, serta hingga saat ini ada daerah yang masih tetap memakai arti membah yaitu membah lor serta membah kidul yakni daerah desa yang jadikan tanah desa (bengkok serta titisarah).
Sesudah pedukuhan baru terjadi, beberapa alur kehidupan diatur serta penebaran agama islampun berkembang. Kyai Sembung, Raden Jaka Pendil serta Raden Jagalah Bodoh tidak tinggal di desa Gintung Tengah tetapi kembali kedaerah aslinya Negara Syiria. Satu diantara masa lalu untuk diingat anak cucu Gintung Tengah yaitu Kyai Sembung bisa menahan petir supaya warga Gintung Tengah terlepas dari serangan petir.
Dalam perubahannya, Pohon Gintung itu bunganya makin banyak yang memerlukan oleh karenanya Kyai Ageng Buyut Membah menanam pohon gintung disamping kidul (Cikal akan desa Gintung Kidul), serta disamping lor (Cikal akan desa Gintung Lor). Supaya masyarakat terasa lebih dekat untuk ambil bunga pohon gintung itu.
Makin lama pedukuhan Gintung Tengah penduduknya semakin tambah serta wilayahnya dibagi jadi sebagian blok yakni : Blok Bentuk yang mencakup pendawa, Blok Pesantren, Blok Desa, Blok Sumur bata
Mengenai tanah-tanah yang ada di luar Desa Gintung tengah seperti tapak bima yang ada di Desa Gintung Kidul, blok sepat (putat) yang ada di Dukumire Desa Galagamba, tanah Silado di Desa Bakung, yaitu tanah-tanah yang didapat dari babat rimba sewaktu istirahat sembari melihat hasil babat beberapa rimba barusan.
Hingga saat ini masih tetap ada beberapa tempat yang dipandang sakral/kramat oleh desa Gintung Tengah yaitu sumur pendawa serta sumur bata. Keduanya yaitu tempat yang katiban gaman/pusaka keris Kyai Ageng Buyut Membah ke-2 tempat itu bisa buat siapapun yang ada dekat dengan sumur itu juga akan terasa tenang, kerasan serta nyaman.
Jika keturunanku (warga Gintung Tengah) mempunyai problem lahir serta batin Kyai Ageng Buyut Membah menyarankan untuk mengamalkan do’a Kanjil Arays lalu mandi di antara dua sumur itu serta jika menginginkan memiliki keunggulan beda (ekonomi serta yang lain) disarankan untuk keluar/merantau dari Desa Gintung Tengah ini, karna tidak semuanya keperluan hidup tidak semuanya ada di sini.
Sedang sumur Kroya serta sumur buk cuma adalah kias atau simbol yang berpungsi untuk peristirahatan beberapa petani sembari berdiskusi mengenai pertanian serta yang lain.
Kyai Ageng Buyut Membah memiliki seseorang istri dari keturunan Kerajaan Galuh Pakuan serta dikaruniai sebagian orang anak (yang keberadaanya tidak bisa dikisahkan). Karna usianya Kyai Ageng Buyut Membah tidak pernah memiliki seseorang murid. Pada hari rabu tanggal 12 Rajab 1154 H/1725 M Beliau meninggal dunia serta dimakamkan di Blok Pendawa, hingga pemerintahan desa di turunkan pada orang yang lain.
Searah dengan perubahan pedukuhan Gintung Tengah serta sepeninggalanya beberapa penerus serta pengganti Kyai Ageng Buyut Membah, Desa Gintung Tengah sempat di pimpin oleh Kuwu Giwang, karna kuwu Giwang tidak dapat mendengar/budeg, jadi populer dengan sebutan Kuwu budeg, hingga tanah-tanah yang ada di luar Desa Gintung Tengah disuruh oleh semasing pemerintah desa setempat.

ASAL USUL DESA BRINGIN

Desa Bringin yaitu satu diantara desa dalam lokasi kecamatan Ciwaringin, kabupaten daerah tingka II Cirebon Luas lokasi desa Bringin 226, 478 Ha. Dengan mata pencaharian masyarakat sebagian besar petani, serta beragama islam.
Konon, sesudah perang kedongdong selesai, 40 orang Ki Gede yang turut berperang juga akan kembali pada tempat asal semasing. Dalam perjalanan pulang mereka beristirahat. Mereka bernaung dibawah pohon bringin yang teduh, serta karna kelelahan mereka tertidur dengan lelapnya. Saat mereka bangun, ada aura tanpa ada ujud yang menyebutkan kalau orang yang datang ke tempat itu dimaksud KI Gede Bringin. Orang yang pertama datang yaitu Ki Gede Srangin dikenal dengan sebutan Ki Gede Bringin.
Sesudah bangun dari tempat tidur itu, keempat puluh Ki Gede terasa haus serta menginginkan minum. Mereka juga akan mencari air untuk minum tetapi dicegah oleh Ki Gede Srangin, lalu ki Gede Serangin menancapkan golok jimatnya yang bernama bandawasa ke tanah. Dari tancapan golok bandawasa, tanah itu keluar air. Mereka minum untuk menyingkirkan dahaganya. Tempat keluar air itu pada akhirnya jadi satu sumur yang dimaksud “sumur kedokan wungu”
• Kedokan berarti telaga
• Wungu berarti bangunan (tangi – Bhs. Jawa), yakni beberapa Ki Gede bangun dari tidurnya.
Sumur kedokan wungu terdapat di samping utara desa bringin yang saat ini, ± 100 mtr., didalam sumur itu dulunya ada belut putih, ikan gabus pitak, ikan lele yang cuma ada kepalanya serta duri dan ekornya saja (tidak ada dagingnya), serta terkadang keluar bulus putih yang tuturnya bulus itu datang dari Telaga Remis Cikarang,
Keempat puluh Ki Gede, yakni Ki Gede Srangin bersama kawan-kawannya pergi ke Kedongdong untuk buat batas tanah. Batas tanah itu pada akhirnya dimaksud Rajeg Kedongdong, yang saat ini membatasi lokasi Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, serta Kabupaten Indramayu.
Kemudian Ki Gede Bringin mengubur jimatnya yang bernama golok Bandawasa di Kedongdong, tempat itu saat ini dimaksud Ki Buyut Bandawasa. Lalu ki Gede Srangin kembali pada tempat Sumur Kedokan Wungu serta di sana membuat padukuhan. Padukuhan itu saat ini yaitu Desa Bringin.

ASAL USUL DESA SUSUKAN

Asal mula Desa Susukan itu yaitu di blok Reca yang saat ini tanahnya telah jadi pesawahan. Karna ikuti jejak Ki Gersik yang pada saat itu jadi guru agama Islam jadi beralih tempat disuatu blok yakni blok Wana Iman yang saat ini dimaksud blok Pamijen.
Mengenai Ki Gresik nama aslinya adalah Kiyai Hasan Madari serta bisa julukan dari Cirebon yakni PANGERAN SELINGSINGAN (asal dari Gresik Surabaya) serta jejaknya dikuburkan dipekuburan Wana Iman.
Mengenai kata Susukan berlangsung pada saat Ki Gresik buat perkampungan Pamijen dari rimba Iman mengatur/menggali buat saluran air gempol yang mengalir dari blok Girang.
Mengenai yang pertama kalinya buka tanah yaitu seseorang wanita yang bernama Ny. Tosa lewat cara membakar rimba diawali dari blok Pamijen dengan pertolongan seseorang Punakawan yang bernama Ki Angger Esa hingga menjalarnya api itu meluas hingga ke selatan yakni di desa Nunuk yang disebut sisi daerah Majalengka (saat ini desa Garawangi).
Menurut cerita orangtua dahulu, pekuburan Nyi Tosa itu berada di daerah Garawangi mengenai yang di daerah Susukan cuma selendangnya saja.
Pada saat itu berlangsung peperangan dengan Ratu Galuh, pahlawanya bernama Pati Sumijang hingga ratu Galuh tertekan kalah, putri serta anak ratunya bisa ditahan serta di bawa ke Cirebon.
Tahanan di angkut ke Cirebon oleh Ki Pati Suro serta tempat saat ini itu bernama desa Tegalgubug, di buat kemah untuk istirahat hingga diselenggarakan hubungan perkawinan tidak resmi pada putri Galuh dengan Ki Pati Suro karna maklum pada lelaki serta wanita. Ahirnya melapor ke Cirebon kalau tahanan itu tidak layak untuk di menjadikan selir, tetapi agar dipandang jadi tawanan yg tidak bermanfaat.
Jadi oleh karenanya Ki Pati Sumijang mendengar momen itu kemudia melapor ke Cirebon kalau Ki Pati Suro berbohong serta saat itu juga memperoleh julukan Ki Pati Rusuh.
Lalu diselenggarakan perang tanding pada Ki Pati Sumijang dengan Ki Pati Suro berada di saluran air perbatasan pada desa Susukan dengan desa Tegalgubug, hingga berlangsung perkelahian yang maha dasyat.
Pada saat itu Ki Pati Sumijang bisa kuasai peperangan itu hingga Ki Pati Suro bisa terpukul mundur serta lari terpontang panting hingga kakinya terinjak binatang kiong hingga tumitnya bengkak.
Nah….. jadu untuk sinyal atau tanda-tanda yang husus, kalau orang Tegalgubug yang asli itu tentu tumitnya besar.
Mengenai kramat Ki Gresik sesudah meninggal dunia, berlangsung di mana saat perang berandal di desa Kedongdong yang diketuai oleh Ki Bagus serit melawan kompeni tentara Belanda, saat ada orang Susukan yang bernama Ki Remang yang ketahui kondisi di Kedongdong yang terjerat berjumpa dengan Tuan Jonas lalu terserang pukulan di bagian kepalanya. Oleh karenanya Ki Remang lari pulang serta masuk ke pemakaman Ki Gresik sembari menahan rasa sakitnya, namun apa akan dikata oleh karna sakitnya itu agak berat jadi Ki Remang itu tidak tahan sekali lagi menahanya serta ahirnya ia wafat juga di pemakaman Ki Gresik.
Tuan Jonas tidak mampu melanjutkan pencegatan di sebabkan karna takut lihat ular besar di pemakaman Ki Gresik, hingga Tuan Jonas kembali sekali lagi ke tempat aslinya.

ASAL USUL DESA TEGAL GUBUG

Sesudah perang pada Kerajaan Telaga (kerajaan cikijing, majalengka) serta Kerajaan Galuh (kerajaan Jatiwangi, majalengka) melawan kesultanan Cirebon, kerajaan Telaga serta Galuh bisa ditaklukan, pada akhirnya orang-orang Telaga memeluk Islam
Lalu Sunan Gunung Jati dalam penyiaran Agama Islam di Negeri Talaga serta Galuh mengutus sebagian orang Gegeden yang mempunyai banyak pengetahuan serta kesaktian tingggi, untuk memberi pengawasan pada tanah taklukan kesultanan Cirebon, kerana masih tetap ada pepatih yang masih tetap belum juga memeluk Agama Islam. Di antara Gegede yang diutus itu yaitu Syaikh Suropati/Ki Suro. Seseorang Gegede yang populer sakti mandraguna yang datang dari Negeri Arab (sumber beda menyebutkan dari Mesir serta Baghdad). Yang nama aslinya yakni Syaikh Muhyiddin Waliyullah/Syaikh Abdurrahman, yang telah dua th. tinggal di keraton Cirebon, sabagai santi (murid) Sunan Gunung Jati, lantas sesudah dipandang cukup ilmunya oleh Sunan Gunung Jati beliau diutus untuk menolong menebarkan Ajaran Islam keseluruh pelosok masyarakat Jawa Barat, dalam perjalanan penebaran Ajaran Islam banyak memperoleh respon baik dari rakyat, tetapi seringkali juga halangan yang dihadapinya, beliau mesti berlaga melawan penggedean pedukuhan itu. Tetapi karena kesaktian ilmuny ayng mandraguna mereka bisa ditaklukan serta mereka ingin memeluk Agama Islam.
Lantas atas jasa serta pengetahuan kesaktianya, Syaikh Muhyiddin diangkat oleh Sunan Gunung Jati jadi pepatih favorit/panglima tinggi (pengawal Sunan) dinegeri Cirebon dengan titel Ki Gede Suropati. Sesudah pemberian titel itu Kanjeng Sunan memerintahkan Ki Suro bertandak ke pondok Ki Pancawal (seorng pembesar kerajaan talaga) untuk membawakan kitab suci Al-quran yang sejumlah banyak ditujukan jadi dasar di Negeri Talaga serta Galuh. Tetapi ditengah jalan perjalanan menuju negeri Talaga Ki Suro menjumpai adegan sayembara memperebutkan seseorang putrid cantik, siapa saja yang dapat menaklukkan Ki Wadaksi (pembesar kerajaan talaga) juga akan dijodohkan/dikawinkan dengan putrinya yang bernama Nyi Mas Wedara, lantas Ki Suro turut dalam sayembara itu Ki Suro cuma menginginkan ketahui pengetahuan yang dipunyai oleh Ki Wadaksi, akhir Ki Suro bisa menaklukkan Ki Wadaksi serta lalu memeluk Agama Islam bersama muridnya. Tapi Ki Suro tidak menikah dengan Nyi Mas Wedara, tetapi Putri Ki Wadaksi itu jadi diserahkan pada Raden Palayasa yang sebelunnya mereka sama-sama menyukai.
Lalu Ki Suro dibawa oleh Ki Pancawala di pondoknya, serta dijamunya dengan jamuan istimewa sembari menyerakan kitab suci Al-quran. Dengan suka hati Ki Pancawala didatangi Ki Suro, tetapi dalam jamuan itu Ki Suro kagum lihat putri Ki Pancawala yang bernama Nyi Mas Ratu Antra Wulan, dalam hati Ki Suro miliki keninginan untuk membuatnya pendamping hidupnya. Tetapi sebelumnya Ki Suro menyebutkan hasratnya untuk meminang Nyi Mas Ratu Antra Wulan, Ki Pancawala telah menyebutkan kalau putrinya juga akan diserahkan pada Sunan Gunung Jati yang diinginkan jadi Istrinya, serta Ki Suro bersedia untuk mengatarkanya ke keraton Cirebon.
Dalam perjalanan menuju keraton Cirebon, sangat panjang dari masuk serta keluar rimba hingga naik serta turun gunung. Dalam satu perjalanan mereka merasakan satu Gubug kecil ditengahnya rimba belantara, Ki Suro memohon beristiharat sebentar untuk menyingkirkan rasa letihnya. Kemudian mereka meneruskan perlajalanannya menuju keraton Cirebon, tetapi sebelumnya Ki Suro menlajutkan perjalanan mendadak dikagetkan dengan kedatngan Nyi Mas Rara Anten, yang memohon Nyi Mas Ratu Antra Wulan untuk dijodohkan dengan putranya. Lalu terjadi perang tanding yang seru selanjutnya Nyi Mas Ratu Anten bisa ditaklukkan.
Perjalanan dilanjutkan kembali, sesudah sampainya di keraton Cirebon, Ki Suro menyerahkan Nyi Mas Ratu Antra Wulan serta mengemukakan amanat Ki Pancawala pada Sunun Gunung Jati. Tetapi amanat Ki Pancawal yang inginkan anaknya menikah dengan Sunan Gunung Jati tidak di terima lewat cara halus, karna Sunan Gunung Jati sebenarnya sudah mengetahui kalau Ki Suro suka pada Nyi Mas Ratu Antra Wulan. Karenanya Sunan Gunung Jati memerintahkan Ki Suro menikah dengan Nyi Mas Rtau Antra Wulan.
Sesudah Ki Suro serta Nyi Mas Ratu Antra Wulan jadi suami istri, mereka membuat pedukuhan/perkampungan disebuah tegalan ditengahnya rimba yang dulu ada satu gubug kecil yang mereka sempat singgahi pada saat perjalanan dari kerajaan Talaga menuju keraton Cirebon.
Pedukuhan itu atas izin serta restu dari Sunan Gunung Jati, serta dinamakan “Tegal Gubug” yang mana nama itu terbagi dalam dua suku kata yakni :
• Tegal berarti : Tanah yang dicangkul untuk ditanami
• Gubug berarti : Tempat tinggal kecil yang terbuat dari bambu serta atapnya dari daun tebu
• Tegal gubug : Satu tempat tinggal kecil yang begitu simpel terbuat dari bamboo, yang sekelilingnya ada tegalan (galengan) yang siap ditanami.
Momen terjadinya nama Tegal Gubug ini berlangsung sekitaran 1489 M. Sekitaran akhir era ke 15 ketika kesultanan Cirebon di pimpin oleh kanjeng Syaikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) Cirebon. Yang disebut satu diantara Wali dari Walisongo, yang dituahkan ilmunya oleh Rekan-rekannya.
Sesudah terjadi satu nama pedukuhan/perkampungan Tegal Gubug, lalu Ki Suro meneruskan misinya untuk selalu menebarkan Ajaran Islam. Dapat dibuktikan dengan pesatnya Agama Islam di sekitar Masyaratnya, yang saat itu masih tetap meyakini (berpedoman, menyembah) Agama Nenek moyangnya yakni : Animisme (aliran/keyakinan pada benda) serta Dinamisme (aliran/keyakinan pada Roh) serta Hindu, Budha.

ASAL USUL CIWARINGIN

Di zaman kapungkur, sapanjang walungan Ciwaringin masih tetap mirupa leuweung. Dina hiji dinten dongkap dua jalmi sinatria di tanah wetan, anu namina Tubagus Ismail Sakar Kedaton sareng Tubagus H. Duliman, kadua sinatria eta teh katurunan kasultanan Cirebon di subang Khairudin.
Maksud maksud kadua sinatria eta dongkap ti leuweung gongong si magongong eta kangge nebihkeun sebagian desakan pamarentahan Belanda nu waktos eta ka sultanan di cepeng ku Sultan Matangaji, teras kadua sinatria eta ngabukbak tatangklan di sapanjang walungan Ciwaringin sareng ngedamel sasaungan kangge tempat netep.
Tempat nyumput maranehannana enteu sempat di kayahakeun ku Belanda, teras dararongkak jalmi-jalmiti beberapa tempat nu sanes ka tempat maranehannana. Saterasna tempat eta mungkin saja loba nungieusianana teras desa eta di pasihan nami “Desa Ciwaringin” sakertos name walungan nu aya didinya.
Disebab Ciwaringin kusabab di tungtung walungan aya hiji tanggul Cairingin anu ageng, mulia sareng iyuh. Dina waktos ayeuna Tubagus Ismail sareng Tubagus H. Duriman naluaran tatangkalan di leuweung Ciwaringin, didinya aya tembok tebeng anu sampai ayeuna masih tetap aya tilas-tilasna.

ASAL USUL KLANGENAN

Cerita ini bermula saat Kerajaan Mataram yang di pimpin oleh seseorang Raja, Raja itu begitu tertarik serta simpati pada ajaran agama Islam, ia mengutus ke-2 putranya yaitu Raden Parta Kesumaatmaja serta Raden Kesumaatmaja untuk menuntut pengetahuan agama Islam di Cirebon.
Pada saat itu perubahan agama Islam di Cirebon begitu cepat di pimpin oleh Syarif Hidayatullah yang bergelar jadi Sunan Gunung Jati. Setelah memperoleh restu, Raden Parta Kesumaatmaja serta Raden Kesumaatmaja pergi menuju Kesultanan Cirebon serta segera diterima hangat oleh Sinuhun Cirebon.
Keduanya jadi murid yang patuh serta taat pada ajaran agama Islam seperti yang di ajarkan oleh gurunya. Sesudah cukup lama tinggal berguru di Cirebon, Raden Parta Kesumaatmaja memohon izin untuk pergi ke daerah Majalengka lantas tinggal di sekitaran aliran sungai Cimanuk yang mengalir hingga ke Indramayu. Sedang adiknya Raden Kesumaatmaja tinggal di Cirebon sesuai sama perintah ayahanda serta gurunya. 
Saat datang tantangan perang Kerajaan Rajagaluh yg tidak suka pada perubahan aga Islam di wilayahnya, Sunan Gunung Jati memberikan tugas beberapa sepupuh Cirebon termasuk juga Raden Kesumaatmaja untuk hadapi tantangan perang itu. Raden Kesumaatmaja dibantu Ki Ragapati, Ki Sangkal, Ki Torek, serta Nyi Sebrod dengan tulus ikhlas terima pekerjaan untuk hadapi perang di daerah perbatasan (sekitaran Desa Pegagan). Dalam peperangan itu, Raden Kesumaatmaja memperoleh kemenangan gilang-gemilang.
Sesudah kondisi aman serta perang usai, Raden Kesumaatmaja bersama beberapa pembantunya diizinkan untuk membangun pedukuhan di rimba yang di dalamnya ada satu bukit. Pedukuhan itu dinamakan Wanagiri. “Wana” berarti rimba, sedang “Giri” berarti gunung. Sedang Raden Kesumaatmaja dijuluki Buyut Nampabaya, oleh karna “keikhlasannya terima bahaya perang.
 Disuatu waktu Buyut Nampabaya bersama pengikutnya membuat pertemuan dibawah sebatang pohon besar yang teduh (ada di tempat balai desa saat ini). Dalam pertemuan itu ia terasa “Nglangen” atau suka sekali bisa nikmati keindahan alam, terlebih panorama ke arah selatan yang menarik dan hijau serta birunya Gunung Ciremai. Setelah itu tempat itu seringkali dipakai tempat bermusyawarah untuk membahas beragam kebutuhan orang-orang.
Ki Buyut Nampabaya bersama pengikutnya setuju berikan nama tempat pertemuan itu Klangenan. Nama itu diabadikan sampai saat ini untuk nama Desa Klangenan, juga nama Kecamatan Klangenan.

ASAL USUL WATUBELAH

konon saat perjalanan ke gendeng alang alang dari galuh ke cirebon karna di panggil prabu siliwangi untuk memperoleh titah mengepalai lokasi cirebon ingin buka perdukuhan di lemah wungkuk, istirahat dibawah pohon beringin yang begitu teduh. tetapi tercengang dengan kondisi lokasi yang banyak batu batuan besar. lokasi itu sangat lain dengan lokasi yang ditemuinya karna banyak alang alang, rimba jati serta pesawahan. tetapi lokasi ini beda, banyak batu batuan besar. belum juga keheranan hilang nambah heran sekali lagi terdengar nada tangis bayi, didalam batuan besar itu. saat itu juga di gecik lah batuan itu sampai terpecah dua sama bentuk. jadi bayi tersebut di asuh serta di ajarkan keilmuan olehnya, serta dalam mimpinya bayi itu yaitu anak dari bidadari atau sebangsa peri. jadi dinamakanlah sela pada karna dari batu yang dipecah terbelah dua sama besar. serta di buka satu pemukiman masyarakat oleh ki gendeng alang alang di lokasi itu. dalam sistem pembukaan tempat pemukiman batu batuan besar tersebut di pecahkan jadi kerikil2 serta pasir. masyarakat yang di bawah oleh ki gendeng alang alang dari lokasi sekelilingnya. serta saat dalam sistem pembukaan tempat pemukiman dengan memecahkan batu batuan sampai kecil masing masing masyarakat ada yang tulus melakukannya serta ada pula beberapa yang menginginkan memperoleh imbalan (bila saat ini imbalan jasa harta atau jasa jabatan di karesidenan). jadi terjadi momen dalam masing masing masyarakat untuk yang tulus jalannya memecahkan batu tdk ada kendala serta kesusahan, demikian sebaliknya untuk yang menginginkan imbalan alami kesusahan dalam sama-sama pecah atau tidak kompak (tdk gotong royong). saat buka tempat pemukiman nyaris usai dibawah batu batuan yg dipecah ada susunan tanah pesawahan serta perkebunan dengan tanah yang subur. singkat narasi sela pada dewasa jadi di buat satu pendopo untuk sela pada mengajarkan pengetahuan ke tiap-tiap orang-orangnya. serta nama pemukiman itu watubelah. saat ki gendeng alang alang ingin mangkat di perintahkan sela pada untuk buka pemukiman di lokasi indramayu bunder karna keadaan nya sama dengan lokasi terlebih dulu. Dalam perjalanan pertama serta ke-2 lancar membawa masyarakat ke lokasi itu dengan pesannya senantiasa dalam ke gotong royongan serta ketulusan. apabila tidak tulus bonggan mengko panjengan bertikai karo batur lan sedulur. dalam perjalanan ke tiga berjumpa dengan rombongan syeh sarif hidayatullah, karna di tanya tidak menjawab jadi berkelahilah sela pada oleh rombongan syeh syarif hidayatullah. hingga tidak sepadan jadi lari kedalam batu di gecik batu itu jadi dua. serta masuk sekali lagi ke batu yang lain. di lokasi indramayu. singkat narasi lolos lah sela pada tetapi memperoleh hukuman oleh ki gendeng alang alang, karna yang menguber nya itu yaitu seseorang sunan yang besar serta seseorang pemangku tahta di cirebon sedang sela pada cuma hanya rakyat jelata yang cuma di asuh. serta di asingkan ke lokasi sabrang.
Jadi kemudian lokasi watubelah serta bunder indramayu orang-orangnya di pimpin oleh pangeran cakrabuana yang disebut mbah kuwu cirebon II sesudah ki gendeng alang alang (mbah kuwu cirebon I). Serta jalan terus-terusan jadi rakyat pemecah batu serta rakyat petani Dan perkebunan.
Mengenai warisan dari ki gede sela pada suatu kotak peti ukuran kecil di lanjutkan oleh pangeran cakrabuana yang didapatkan dari ke gendeng alang alang. kotak peti itu satu deskripsi lokasi desa watubelah serta sekelilingnya di mana setiap tahunnya beralih ganti berisi. serta tiap-tiap bln. muludan dibuka dlihat wujudnya. Setiap th. upacara buka jimat sudah jadi kebudayaan setempat, jimat peti cilik di buka didalamnya senantiasa beralih bentuk sesuai sama musim yang berada di desa itu. sampai hingga th. 1988 upacara buka jimat ketika muludan itu masih tetap berjalan.
Singkat narasi, setalah berjalan sebagian keturunan bertukar jadi ada keturunan yang lain memperistrikan seseorang bidadari juga. Dengan tunggangannya kuda sembrani serta sesudah mangkat di pendam di lokasi itu hingga kuburan itu jadi makam keramat buyut sawen serta kuburan kuda nya di pendam di pesalakan makam simadu. hingga saat ini kuburannya masih tetap ada.
Website budaya di Desa Watubelah
1. bangunan keramat ki gede selapada
2. makam keramat buyut sawen
3. makam dawa kembar
4. makam gaman
5. makam ki kerta menggala
6. undukan batu berupa gapura.
Mata pencahariannya orang-orangnya :
Pemecah batu, penggali pasir, bertani serta berkebun
Semboyan hidup warisan ki gede selapada :
Bonggan sira baka silo karo dunyo (harta serta jabatan), mengkone pada pecah pada sedulur lan batur, sipate punya sedulur ojo diambil, melas karo anak putu.
Dadi manungso kudu manganne sing gusti pangeran kang sipate kemulyaan, baka dudu manungso manganne sing parkayangan kang sipate angkoro murko.
Urip kudu tulus ojo serakah sedulur kasusahan kudu di tolong/dibantu. wong tuo kudu di hormati.
Siro weru karo gusti pangeran lan ilmune dunyo asale sing wong tuo.
Hati hati/awas janganlah silau dengan duniawi (harta serta tahta), kelak pecah belah sama sodara serta rekan. rejeki haknya saudara janganlah diambil, kelak terkena balasannya kasian anak cucu.
Jadi seseorang manusia mencari rejeki dari Allah yang sifatnya kemulyaan, jika bukanlah manusia mencari rejekinya dari parkayangan yang berbentuk angkara murka (kecurangan, tipu muslihat, serta melukai orang)
Hidup harus yang tulus janganlah serakah, sodara kesulitan di tolong dengan sedapatnya, orangtua harus dihormati karna kita mengetahui Allah karna orangtua.

ASAL USUL BEDULAN

 Histori Bedulan bermula pada th. 1556 yang waktu itu tanah bedulan masih adalah rimba rimba yang tidak berpenghuni serta dibawah kekuasaan kerajaan cirebon yang waktu itu kerajaan Cirebon diperintah oleh Sunan gunung jati atau yang bergelar Syehk Syarif Hidayatullah serta pada waktu itu kerajaan cirebon adalah kerajaan islam pertama di jawa barat hingga cirebon membina hubungan diplomatic dengan demak yang waktu itu adalah kerajaan islam paling besar di tanah jawa. Ada keterikatan Sejarah pada babad bedulan dengan astana gunung jati Berkenaan dengan di rebutnya wilaya Jakarta atau waktu itu yang bernama sundakelapa oleh portugis pada th. 1561 Masehi maka
kerajaan demak yang waktu itu diperintah oleh raden patah begitu kawatir dengan portugis hingga kerajaan demak memerintahkan seseorang panglimanya yang bernama patahillah dengan sekitaran 30, 000 tentaranya untuk mengusir portugis dari sundah kelapa yang waktu itu dirubah namanya oleh
portugis Jadi Repoblik Batav atau yang lebih dikenal dengan nama Batavia. Berkenaan dengan itu maka peluang itu tidak ditinggalkan oleh pihak cirebon untuk menolong pihak demak yang menginginkan menyerang sunda kelapa karna pihak Cirebon juga terasa terancam dengan terdapatnya portugis di sunda kelapa waktu itu sehingga pada th. 1562 pihak
kerajaan cirebon mengutus seseorang panglima wanita yang bernama Nyi, Mas Baduran untuk menyiapkan satu tempat yang juga akan di pakai sebagai persinggahan sementara pasukan demak yang juga akan menyerang Batavia, Sehingga diutuslah Nyi, Mas Baduran untuk mempersiapkan tempat persinggahan itu dan dengan seizin dari Mbah Kuwu Cirebon atau pangeran Walang Sungsang kalau Nyi, Mas Baduran di persilahkan menebang rimba yang tak bertuan yang terdapat di samping utara pelabuhan muara jati atau yang saat ini Lokasi celangcang serta sebelumnya berangkat
Nyi, Mas Baduran di bekali jimat oleh Mbah Kuwu Cirebon Berbentuk Selendang Yang menurut mbah kuwu selendang itu Nyi, Mas Baduran juga akan begitu bermanfaat dalam melakukan tugasnya untuk buka tempat hutan itu. Sesampainya di wilayah rimba samping utara pelabuhan Muara jati Nyi, Mas Baduran menebang pohon dan menyatukan rerumputan kering yang lalu hingga kelelahan serta berfikirlah Nyi, Mas Baduran kalau ia seseorang diri menebang pepohaonan rasa-rasanya tidak juga akan mampu untuk menyimpan beberapa pasukan demak yang sangat banyak hingga ia berinisiatif untuk membakarnya dan sesudah rerumputan ilalang yang terbakar membumbung
asapnya ke angkasa lalu Nyi, Mas Baduran menyabatkan selendangnya ke bara api itu supaya api
itu cepat merambat sembari menyabatkan selendang ia mengucap hingga di mana bara api ini terjatuh jadi tempat itu adalah tanah baduran. Sesudah bara padam Nyi, Mas Baduran lalu berkeliling-keliling untuk meyakinkan batas- batas wilayahnya dan pada akhirnya bara itu jatuh
hingga lokasi Desa Bojong Serta batas desa bakung sehiingga kigede bakung terasa tersinggung dengan Nyi, Mas Baduran yang menurut dia sudah merampas tanahnya hingga berlangsung pertikaian atau perkelahian pada kigede bakung dengan Nyi, Mas Baduran di wilayah tapal batas bakung dengan tanah bedulan sekarang konon tuturnya perkelaian itu hingga berlangsung berminggu-minggu sampai keduanya kehabisan tenaga serta kesaktian sehingga hingga ketika kigede bakung terasa kalah serta mundur tetaoi lalu ada tanaman labuhitan yang tersangkut di kaki Nyi, Mas
Baduran hingga terjatuh lihat hal sesuai sama itu kigede bakung menghunuskan kerisnya hingga Nyi, Mas Baduran terluka tetapi Nyi, Mas Baduran tidak hanya diam juga sempat menusukan kerisnya ke badan kigede bakung hingga ki gede bakung tewas ditempat itu namun luka taklama setelah kigede bakung meninggal Nyi, Mas Baduran pun menyusul tidak kuat tetapi sebelumnya Nyi, Mas Baduran wafat ia pernah berpesan pada anak cucu supaya kelak janganlah menanam pohon labu hitam tersebut di tanah bedulan hingga sampai saat ini orang-orang bedulan tak ada yang berani
menanamnya. Mendengar berita Nyi, Mas Baduran sudah meninggal pihak keraton cirebon sangat menyayangkan hal tersebut hingga di utuslah putri dari Nyi, Mas Baduran sendiri yang bernama Nyiu, Mas Pulung Ayu dengan didampingi pangeran jaya lelana untuk menguburkanya dengan layak
serta melanjutkan tugasnya untuk mempersiapakan satu padukuan sebagai persinggahan pasukan Demak yang juga akan tiba serta kemudian dirampungkanlah tugas Nyi, Mas Baduran oleh pangeran jaya lelana dbersama dengan Nyi, Mas Pulung ayu serta kemudian nyi mas Pulung Ayu memutuskan untuk tinggal di daerah baduran untuk meneruskan serta menjaga kuburan dari sang ibunya. Kemudian pada th. 1563 datanglah tentara demak yang dipimpin oleh Fatahillah serta di seranglah Batavia serta portugispun bisa ditaklukkan serta lalu Repoblic batav di ganti namanya jadi Jaya
Karta yang berarti Kota kemenangan serta jaya karta saat ini di kenal dengan nama Jakarta sesudah di taklukanya Batavia pada th. 1563 jadi banyak dari tentara Demak yang memilih
untuk tinggal di padukuan baduran hingga padukuan baduran yang sebelumya cuma tempat persinggahan saat ini jadi sebua pedukuan yang ramai akan penduduknya serta pada tahun  1565 baduran resmi menjadi satu desa yang di kepalai oleh seseorang akuwu yaitu kuwu wertu kkemudian pada th. 1576 desa baduran di naikan setatusnya menjadi pademangan dengan seseorang demang Pangeran jaya lelana jadi demang yang bergelar adipati Suranenggala. Lalu pada th. 1782 pihak kerajaan cirebon yang waktu itu telah lemah wilayahnya sedikit untuk sedikit dikuasai oleh pihak belanda atau VOC Waktu itu jendral Van hotman sebagai ajudan daripada Dengles memerintahkan agar pademangan baduran di hilangkan serta di ambil alih kekuasaanya oleh residen Cirebon yang bermarkas di kerucuk saat ini serta tanah bedulan di untuk dua menjadi karang reja serta tanah baduran serta sejak saat itu nama baduran bertukar jadi Bedulan memakai loga belanda serta bedulan jadi desa kembali lalu pada th. 1952 bedulan di pecah menjadi dua sisi yakni desa
Suranenggala kidul atau bedulan kidul dan Surangenggala Lor Atau Bedulan Lor lalu pada th. 1982 bedulan lor dipecah kembali jadi dua desa yakni Suranenggala Lor Serta Suranenggala serta bedulan kidul dipecah jadi dua desa juga yakni desa suranenggala kidul dan suranenggala kulon. Dan menurut perda no 17/02/12/ thun 2006 suranenggala jadikan nama kecamatan dengan resmi serta hingga saat ini Suranenggala adalah nama desa serta kecamatan dan nama bedulan yaitu nama dari persatuan dari desa-desa itu.

ASAL-USUL DS. BAYALANGU CIREBON

Bayalangu Babad Tanah Bayalangu….. Bayalangu menurut Bhs gaul yaitu Bahaya yang sudah berlalu…jadi apa pun bahaya bila telah masuk lokasi bayalangu jadi bahaya nya sudah berlalu terkecuali bahaya korupsi desa…. bayalangu begitu populer dengan kekeramatan ki gede Bayalangu yang begitu termashur serta sakti mandraguna menurut orang- orangtua yang berikan info pada penulis yaitu seseorang maha patih dari banten yang tengah menjajal kesaktian karna mungkin saja didaerah bantennya tak ada yang bisa menandingi, beliau dengan mengendarai kuda semberani datang melawat cirebon tetapi sebelumnya tiba di tujuan persisnya di satu pulau majeti beliau terjaring oleh jaring kakek tua (yang sesungguhnya yaitu pangeran Cakrabuana) yang disebar ke atas.. serta jatuh ke atas sawah yang tengah menguning berbentuk padi merah maka dari itu hingga hari ini Cucu serta anak turunan Kigede Bayalangu dilarang untuk memiliki jaring serta tanam beras merah hingga saat itu ki gede bayalangu yang waktu itu bernama Mandalika bertekuk lutut di hadapan kakek tua itu dari situlah beliau mengabdi pada ki kuwu cirebon…. Sesudah ki gede bayalangu jadi Abdi dari Mbah ki kuwu cirebon beliau di beri lokasi kekuasaan di daerah aliran sungai anak ciwaringin yang saat ini dimaksud Bayalangu yang mana ketika itu masih tetap berbentuk alas belantara tetapi dengan seluruh kesaktiannya ki gede bayalangu bisa membabat alas dengan gampang serta luas (karna pada saat itu belumlah ada buldoser serta traktor) hingga pengerahan kesaktian juga akan begitu efisien untuk membabad tanah bayalangu Kekeramatan ki gede bayalangu sangatlah populer bahkan juga hingga ke Kalimantan serta sumatera mengenai satu diantara pengetahuan kesaktian yang dipunyai oleh ki gede bayalangu yang tersohor yaitu GELAP NGAMPAR yang mana di nusantara cuma ada dua orang yang memilikinya yakni Maha patih GAJAH MADA… mengenai cirri ciri khas dari kesaktian itu yaitu bisa kuasai petir atau bhs bayalangunya GLEDEG jadi di ruang pemakaman ada Pesarean KI BUYUT GLEDEG diakui oleh orang-orang setempat serta sekelilingnya bisa dapat mengobati luka bakar yang disebabkan oleh Petir (hayooo…. orang Bayalangu yang di rantau jangan pernah lupa ke ki buyut karna begitu kita teringat kematian kita and janganlah lupa kasih sedikit oleh2 buat kunci roni ya… ya alakadarnya saja) Ruang keramat di puncak Keramat… Ki gede Bayalangu dalam melindungi lokasi teritorialnya pantas ditiru serta jadikan jadi standard patokan untuk melindungi lokasi. Ruang desa bayalangu yang termasuk juga luas bila dibanding dengan desa yang beda termasuk juga desa yang memiliki basis pertahanan serta wadya bala yang mumpuni seumpama Bayalangu di samping barat diberi teritorialnya pada Ki Buyut Kaciraga yang mana masih tetap hingga hari ini beliau senantiasa menolong bila ada kesusahan dalam hadapi pertempuran mirip contoh Bayalangu VS gegesik yang baru- baru terjadi…Gegesik di buat kocar kacir karna ada pasukan yg tidak di kenal turut menjaga wilayahnya …. tersebut keuntungan jadi anak cucu buyut Bayalangu karna hingga hari ini pasukan tidak di kenal tidak sempat terlihat serta ada.

ASAL USUL DESA PALIMANAN

Desa Palimanan terdapat di pusat kota Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon, luasnya 26. 764 Ha, terbagi dalam tanah bukit serta tanah datar di kaki gunung Ciremai.
Pada th. 2006, penduduknya berjumlaah 5. 586 orang terdiri daari lelaki 2. 842 orang serta wanita 2. 861 orang, mata pencaharian beberapa besar penduduknya pedagang, ada juga yang petani serta pegawai negeri.

Saat semula tumbuh serta mengembangnya ajaran Islam di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Cirebon yang di pimpin Kanjeng Sinuhun Syekh Syarif Hidayatullah serta Rama uwaknya Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Cirebon), beliau mengutus seseorang kesatria tentukan tanding untuk menggempur serta menundukkan beberapa orang yang masih tetap kafir serta memusuhi Islam, jadi seseorang kesatria barusan mengubah bentuk jadi Nyai Mas Gandasari, Nyai berarti wanita, Mas berarti seseorang lelaki, gandasari berarti mempunyai dua kemaluan, wanita serta lelaki. Nyai Mas Gandasari sebelumnya maju ke medan pertempuran terlebih dulu menitipkan pelanangannya atau PELI (penis) pada seseorang Ki Gede yang sakti mandra manfaat (raga poyan). Singkat ceritera selesai pertempuran Nyai Mas Gandasari punya maksud akan ambil PELI yang dititipkan pada Ki Gede barusan, tetapi apa yang berlangsung, demikian kecewa karna PELI yang dititipkan barusan tanpa ada disengaja “keeleg”/Bhs Cirebon (termakan) serta masuk dalam perut, disebabkanPELI barusan ditelan kedalam mulut Ki Gede, jadi berkatalah Nyai Mas Gandasari pada Ki Gede : “Mangan PELI kaya buta”/Cirebon (makan PELI seperti seseorang raksasa), saat itu Ki Gede beralih ujud jadi seseorang raksasa. Dari peristiwa tersebut jadi daerah itu diberi nama Palimanan, yang lalu jadi Desa Palimanan.

Pada pertengahan era ke 15, sekitaran th. 1450 M, lokasi pedukuhan Cheribon masih tetap dikuasai Prabu Cakraningrat Kerajaan Galuh yang berkedudukan di Rajagaluh bawahan kerajaan Pajajaran. Ketika itu penguasa Kerajaan Galuh Pakuan untuk lokasi Cheribon dipercayakan pada Panglima Perangnya yang bernama Ki Patih Arya Kiban atau Ki Gede Palimanan dibantu oleh Arya Gempol, Arya Sutem, Arya Igel serta yang lain. Pusat perwakilan kerajaan berkedudukan di Palimanan jadi pintu gerbang pertahanan serta untuk memonitor/mengawasi kondisi Kerajaan Islam Cirebon di bawah pimpinan Syekh Syarif Hidayatullah.

ASAL USUL GEGESIK

Pangeran Gesang/Ki Gede Gesik berkedudukan di Gesik-Tengah Tani memiliki tiga anak lelaki serta satu orang anak wanita yakni Ki jagabaya, Ki Sumerang, Ki Baluran serta Nyi Mertasari. Saat memijak dewasa, ke-4 anak itu memohon untuk kuasai tanah cakrahan yang dipunyai ayahnya jauh sebelumnya dikerjakan babad rimba. Atas keinginan anak-anaknya itu Ki Gede Gesik membuat perundingan dengan Ki Kutub (Sunan Gunung Jati) serta Ki Sangkan (Ki Kuwu Cerbon) yang akhirnya di terima serta di setujui dengan. Ki Gede Gesik setelah itu memerintahkan ke-4 anaknya untuk membagi tanah cakrahan kepunyaannya yang terdapat dibagian utara perbatasan tanah Cirebon dibarengi seseorang utusan Ki Kutub yang bernama Ki Warga asal Danalaya, manfaat melihat serta memberi pertimbangan dalam pembagian tanah itu. Setelah tiba di tanah cakrahan yang juga akan diberikan, mereka menjumpai jalan buntu karna ke-3 anak lelaki memiliki pendirian yang bertentangan dengan saudaranya yang wanita. Ketiganya berpendirian kalau pembagian untuk anak lelaki mesti berlainan dengan anak wanita. Anak wanita cukup memperoleh sisi tanah sebesar payung. Sudah pasti pendirian ke-3 saudaranya itu ditentang Nyi Mertasari, karna menurut dia pembagian mesti sama luas. Pertentangan pendapat ini cukup menelan saat lama serta kecil keinginan bisa dikerjakan, tengah Ki Warga sendiri tidak mampu mengatasainya. Oleh karna cukup lama tak ada berita kabar, Ki Kutub begitu cemas juga akan keselamatan Ki Warga serta setelah itu memerintahkan Ki Panunggul asal Pajajaran menyusul ke tanah cakrahan untuk ketahui kehadiran mereka. Sesudah memperoleh keteragan Ki Warga kalau pembagian tanah cakrahan belum juga terwujud bahkan juga menyebabkan pertikaian, Ki Panunggul buat kebijakan dengan membuat sayembara yang di terima semuanya pihak di mana Ki Panunggul melakukan tindakan jadi juri serta Ki Warga saksi. Disebutkan oleh Ki Panunggul pada mereka kalau “ barangsiapa di antara mereka bisa menadatangkan beberapa jenis hewan isi rimba, jadi tanah cakrahan ayahnya semuanya jadi miliknya”. Berturut-turut sayembara diawali dari Ki Jagabaya serta paling akhir Nyi Mertasari. 1. KI JAGABAYA : Kurun waktu dalam waktu relatif cepat bisa mendatangkan kuda ekor panjang berkerocok baja, serta seekor anjing berbulu tidak tipis. 2. KI SUMERANG : Sesudah tangannya menepak air sungai mendadak jadi kering (Kaliasat) serta keluar buaya putih yang cukup besar. 3. KI BALURAN : Dengan tusukan jarinya kedalam tanah nampaklah seekor ular yang besar seperti pohon kelapa. 4. NYI MERTASARI : Memberikan tangannya ke kanan serta ke kiri dengan mengatakan banteng, singa, macan, badak, jadi berdatanganlah binatang-binatang yang disebutnya itu. Usai lakukan sayembara, Ki Panunggul sebagai juri lakukan penilaian sebagai berikut : 1. Hasil Ki Jagabaya Kuda berbuntut panjang serta anjing berbulu tidak tipis tidak dipandang hewan isi rimba tetapi hewan piaraan. 2. Hasil Ki Sumerang : buaya putih yg tidak kecil dipandang hewan laut. 3. Hasil Ki Baluran : ular sebesar pohon kepala dipandang hewan umum serta ada di mana-mana 4. Hasil Nyi Mertasari : banteng, macan, singa serta badak dinyatakan benar tempatnya di rimba serta Nyi Mertasari dinyatakan jadi pemenang sayembara.
Atas kemenangannya itu, semua tanah cakrahan dinyatakan jadi hak punya Nyi Mertasari, tengah ke-3 saudaranya tidak memperoleh kekuasaan/hak atas tanah ayahnya itu sedikitpun. Sesudah pernyataan serta penyerahan tanah pada Nyi Mertasari, Ki Panunggul dengan Ki Warga pulang untuk mengemukakan laporan pada Ki Kutub tentang semua suatu hal yang terjadai pada pembagian tanah cakrahan Ki Gede Gesik, mulai sejak menjumpai jalan buntu sampai pada akhirnya diadakan sayembara yang di terima dengan baik oleh Ki Kutub. Ke-3 anak lelaki yang tidak berhasil/kalah dalam sayembara terasa menyesal serta kecewa (setelah ditinggalkan Ki Panunggul serta Ki Warga). Selang beberapa saat datanglah Ki Warsiki dari Kedungdalem hampiri ketiganya serta bertanya kenapa mereka tampak gundah, murung serta sedih. Pertanyaan Ki Warsiki dijawab dengan selalu jelas, serta dikisahkan oleh ke-3 anak lelaki Ki Gede Gesik itu dari pertama hingga akhir. Sesudah Ki warsiki ketahui duduk persoalannya, ia merekomendasikan supaya ke-3 anak itu selekasnya menghadap Ki Kutub agar bersedia meninjau kembali ketentuan sayembara yang dikerjakan Ki Panunggul. Anjuran Ki Warsiki di terima baik, walau demikian mereka tidak berani segera menghadap Ki Kutub. Mereka pada akhirnya memohon pertolongan serta pertolongan Ki Warsiki untuk menghadap Ki Kutub mengemukakan ketidakpuasan berdasar hasil sayembara Ki Panunggul. Ki Warsiki menyebutkan bersedia serta mampu menghadap Ki Kutub, ia memohon di beri sisi tanah cakrahan jadi sinyal jasa. Dengan penuh kepercayaan Ki Warsiki pergi menghadap Ki Kutub. Sesampainya di Keraton, ia mengemukakan maksud kunjungannya serta bercerita ketidakpuasan ke-3 anak Ki Gede Gesik dalam pembagian tanah cakrahan lewat cara sayembara serta memohon pertimbangan Ki Kutub agar meninjau kembali ketentuan Ki Panunggul. Ki Kutub menyebutkan kalau hal tersebut mungkin dikerjakan, seandainya Nyi Mertasari jadi pemenang tanpa ada paksaan bersedia berunding. Bukanlah main senangnya Ki Warsiki sesudah mendengar jawaban Ki Kutub. Lalu Ki Warsiki menjumpai Nyi Mertasari serta membujuknya agar ingin berunding kembali dengan ke-3 saudaranya dalam masalah ketentuan sayembara. Atas dampak Ki Warsiki, Nyi Mertasari Menyebutkan kesediaannya untuk meninjau kembali ketentuan hasil sayembara, serta pada akhirnya Nyi Mertasari memberi beberapa tanah cakrahan pada saudara-saudaranya serta ia memastikan sendiri batas-batas tanah yang didapatkan pada ke-3 saudaranya itu. Ki Jagabaya di beri tanah sisi samping utara, Ki Sumirang sisi selatan, Ki Baluran sisi barat laut, serta bekasnya yang ada ditengahnya yaitu sisi Nyi Mertasari sendiri. Sesudah pembagian tanah bisa dikerjakan serta di terima semuanya pihak, mereka lalu berunding kembali serta mengambil keputusan Ki Jagabaya jadi Ki Gede Jagapura, Ki Sumirang jadi Ki Gede Bayalangu, Ki Baluran jadi Ki Gede Guwa serta Nyi Mertasari jadi Nyi Gede Gesik. Diputuskan pila Nyi Gede Gesik Jadi pemimpin daerah itu, karna kelebihannya dalam sayembara. Sesuai sama janji untuk memberi sinyal jasa, Ki Gede Jagapura berikan tanah yang terdapat di samping selatan jagapura blok situnggak. Ki Gede Bayalangu berikan tanah di blok sikacang, serta Nyi Gede Gesik meskipun tidak menjanjikan berikan tanah juga di blok sijinten. Mengenai Ki Gede Guwa tidak berikan tanah, karna letaknya sangat jauh. Jadi gantinya Ki Warsiki memohon agar Ki Gede Guwa bersedia menanggung keperluan kebiasaan masyarakat kedungdalem berbentuk gamelan panggung. Oleh karenanya sampai saat ini ada tanah sisi kedungdalem yang terpisah dari tanah kedungdalem, yakni blok situnggak, sikacang, sijinten, serta blok panggung wayang. Nyi Gede Gesik walau seseorang wanita walau demikian besar sekali keinginannya untuk kuasai tanah, sampai membuat pelebaran dengan menebang rimba yang ada di pinggir pantai samping timur laut dari daerahnya yakni di daerah luwung (leuweung/rimba) Gesik (saat ini terdapat dikritikatan krangkeng kabupaten Indramayu). Sesudah Ki Kutub ketahui Nyi Gede Gesik Punya maksud kuasai Luwung Gesik, ia melarangnya. Menurut Ki Kutub tanah itu spesial disiapkan untuk beberapa dedemit serta siluman. Oleh karenanya Nyi Gede Gesik tidak jadi lakukan pelebaran. Ki Panunggul begitu tertarik juga akan kecantikan Nyi Gede Gesik, serta punya maksud menginginkan membuatnya istri. Atas anjuran Ki Warga, Ki Panunggul menjumpai Ki Lebe Embat-embat untuk menikahkannya, walau demikian Ki Lebe tidak dapat memenuhinya serta dianjurkan untuk menjumpai Ki Lebe Bakung, lalu Ki Lebe Bakung dengan Ki Panunggul pergi menuju Gesik untuk melakukan perkawinan dengan Nyi Gede Gesik. Dari perkawinan dengan Ki Panunggul Nyi Gede Gesik Memiliki keturunan dua orang. Anak lelaki dinamakan Raja Pandita, serta yang wanita tidak dimaksud namanya. Raja Pandita sesudah dewasa dicintai oleh Ki Sangkan serta ditugaskan melindungi keamanan di daerah ibunya. Mengenai anak wanita dicintai oleh ki Lebe Bakung, serta karna sayangnya Ki Lebe Bakung memohon pertimbangan pada Ki Warga untuk meniokahinya. Sembari tersenyum ki Warga menyebutkan pada Ki Lebe Bakung sekian “kapi asem teman apa ora lingsem cocok ngawinaken m’boke, anake arep dikawin dewek”. Karna kalimat itu Ki Lebe Bakung setelah itu dimaksud Ki Lebe Asem. Selanjutnya terwujud juga perkawinan dengan anak wanita Nyi Gede Gesik itu. Dari perkawinan ini Ki Lebe Asem memiliki keturunan dua orang anak lelaki. Sesudah dewasa ke-2 anak ini memohon orang tuanya agar bisa kuasai daerah kekuasaan. Atas anjuran Ki Warga, tanah kekuasaan Nyi Gede Gesik dibagi serta diserahkan pada ke-2 cucunya itu.

•Bagian dearah Karadenan lalu jadi Gegesik Kidul •Bagian daerah Ketembolan lalu jadi Gegesik Lor Oleh karenanya Ki Lebe Asem memiliki putra sekali lagi sejumlah dua orang, tanah Nyi gede Gesik dibagi jadi dua itu lalu semasing dibagi dua sisi sekali lagi. Keradenan (GegesikKidul) jadi Karacenan serta Kedayungan (Gegesik Wetan) ; Ketembolan (Gegesik Lor) jadi Ketembolan serta Kecawetan (Gegesik Kulon). Sebutan itu memberikan tanda-tanda pemimpin serta rakyat dari semasing desa seperti berikut. Gegesik Kidul/Keradenan pemimpinnya berbentuk keningratan, rakyatnya sukai/pintar mengarang kalimat (nganggit omongan). Pimpinan Gegesik Wetan/kedayungan menonjol dalam soal baik ataupun jelek, rakyatnya sukai beramai-ramai tanpa ada isi. Gegesik Lor/ketembolan pemimpinnya ditaati bawahan, rakyat senatiasa menggerutu dibelakang ; sedang Gegesik Kulon/kecawetan pemimpinya disiplin, rakyatnya selalu menyerah tanpa ada sisa.
Previous Post
Next Post

0 komentar: