Sunday, January 14, 2018

Sejarah Lengkap Pura Dalem Balingkang

Pura Dalam Balingkang berdiri megah pada tempat seluas 15 hektar di lokasi Desa Pakraman Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Untuk menuju Pura Dalam Balingkang, mesti turun dari Pura Pucak Penulisan menuju Banjar Paketan di Desa Pakraman Sukawana. Dari Banjar Paketan menuruni jalan berliku dengan pemandangan indah jejeran gunung Batur, gunung Abang, serta gunung Agung menuju Pura Dalam Balingkang. Pura Pucak Penulisan adalah hulunya Pura Dalam Balingkang, karna Pura Dalam Balingkang pas menghadap ke Pura Pucak Penulisan. Pura Dalam Balingkang seakan-akan dikelilingi oleh tembok yang terbagi dalam bubungan berbentuk perbukitan yang memutari kawah gunung Batur terdapat di samping timur, barat, utara serta selatan. Selain itu juga dikelilingi oleh sungai Melilit yang disebut sumber mata air untuk orang-orang sekelilingnya. Pura Dalam Balingkang terdapat di samping barat lebih kurang 2, 5 km. dari pemukiaman atau perumahan orang-orang Desa Pakraman Pinggan. Sejarah Pura Dalam Balingkang juga akan dibicarakan dari sebagian pojok pandang, salah satunya : 1) Berdasar pada Purana Pura Dalam Balingkang th. 2009, 2) Berdasar pada mitos orang-orang di sekitaran Pura Dalam Balingkang, serta 3) Berdasar pada Kekawin Barong Landung.

Purana Pura Dalam Balingkang (2009)

Purana Pura Dalam Balingkang mengatakan kalau maharaja Sri Haji Jayapangus beristana di gunung Panarajon. Pada saat pemerintahannya maharaja Sri Haji Jayapangus didampingi oleh permaisuri beliau yang bergelar Sri Parameswari Induja Ketana. Beliau Sri Parameswari Induja Ketana dikatakan sebagai putri paling utama yang begitu bijak. Beliau datang dari danau Batur yang disebut keturunan Bali Mula atau Bali asli. Pada saat pemerintahan saat itu yang menjabat jadi Senapati Kuturan yaitu Mpu Nirjamna. Beliau memiliki dua orang penasehat yang bergelar Mpu Siwa Gandhu serta Mpu Lim. Mpu Lim memiliki dayang wajahnya cantik bernama Kang Cing We, putri dari I Subandar yang memperistri Jangir yakni wanita Bali.

Sesudah lama Kang Cing We jadi dayang Mpu Lim, ada hasrat beliau Sri Haji Jayapangus untuk memperistri Kang Cing We sekalian diupacarai. Oleh karna sekian hasrat beliau, segaralah beliau Mpu Siwa Gandhu menghadap serta memberi anjuran pada baginda raja. Kalau kehendak baginda raja memperistri putri I Subandar yakni Kang Cing We tidak pas, karna baginda raja beragama Hindu sedang Kang Cing We beragama Buddha. Namum, saran Sang Dwija tidak diindahkan oleh baginda raja. Geramlah baginda raja pada Bhagawantanya, oleh karna sekian Mpu Siwa Gandu tak akan jadi penasehat di kerajaan Panarajon. Cepatlah baginda menyelenggarakan upacara pernikahan, yang disaksikan oleh beberapa rohaniawan dari agama Hindu ataupun agama Buddha, beberapa petinggi seperti sang pamegat, beberapa petinggi desa, serta beberapa karaman. Sesudah sebagian lama upacara pernikahan berlalu, I Subandar menghadirkan dua keping uang kepeng atau pis bolong untuk bekal putrinya mengabdi pada baginda raja. Setelah itu masa datang supaya baginda raja menganugrahkan dua keping uang kepeng atau pis bolong itu pada rakyat beliau yang berada di semua pulau Bali. Jadi fasilitas upacara yajña atau kurban hingga masa datang.

Bedasarkan perjanjian Sri Haji Jayapangus dengan Kang Cing We teersebut, geramlah Mpu Siwa Gandhu pada sikap baginda raja. Beliau Mpu Śiwa Gandhu melakukan tapa brata memohon anugerah pada beberapa dewa supaya berlangsung angin ribut serta hujan lebat sepanjang sebulan tujuh hari. Karna memang sungguh-sungguh khusuk Mpu Siwa Gandhu melakukan tapa brata, jadi benarlah berlangsung angin puting beliung serta hujan lebat. Hancurlah keraton Sri Haji Jayapangus di Panarajon. Beliau Sri Haji Jayapangus disertai oleh sisa-sisa abdinya mengungsi ke tengah rimba, yaitu ke lokasi Desa Jong Les. Disana beliau secara cepat merabas semak belukar serta rimba lebat, juga diperlengkapi dengan upacara serta upakara yajña.

Bangunan suci kerajaan baginda raja saat ini bemama Pura Dalam Balingkang. Kata “Dalem” di ambil dari kata tempat itu yang dimaksud Kuta Dalam Jong Les. Mengenai kata Balingkang di ambil dari kata “Bali”, yakni baginda raja jadi menguasa jagat Bali Dwipa. Kata “Kang” sesungguhnya di ambil dari nama istri beliau yang bernama Kang Cing We. Ada sekali lagi dijelaskan, ketika baginda raja mengungsi dari Panarajon ke tengah rimba dimaksud Kuta Dalam. Disana beliau berhasil memusatkan fikiran beliau hingga ke fikiran terdalam atau daleming cita memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Beliau berhasil membuat keraton serta tempat suci di Kuta Dalam. Sesudah beliau memerintah di Balingkang kembali sejahteralah semua kerajaan Bali Dwipa. Lebih-lebih sesudah didampingi oleh ke-2 permaisuri beliau yang senantiasa duduk di kiri-kanan singasana beliau. Mengenai yang mengikuti atau mengabih di kanan bergelar Sri Prameswari Induja ketana, serta di kiri bergelar Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna atau Kang Cing We. Dan beberapa petinggi kerajaan serta beberapa abdi atau rakyat beliau semua.

Berdasar pada Mitos Orang-orang di Sekitaran Pura Dalam Balingkang

Berdasar pada mitos yang berkembang pada orang-orang di sekitaran Pura Dalam Balingkang. Dikisahkan kalau pada zaman dulu ada seseorang raja yang bernama Sri Jayapangus. Beliau beristana di bukit Panarajon, dan keraton beliau di Kuta Dalam. Awalnya waktu beliau memerintah di Panarajon beliau memiliki seseorang permaisuri bernama Dewi Mandul atau seseorang permaisuri yg tidak dapat melahirkan. Sri Jayapangus berkemauan memiliki seseorang putra untuk melanjutkan tahta atau kedudukannya di Panarajon. Tetapi, hasrat beliau tidak terkabulkan berhubung permaisuri tidak bisa melahirkan seseorang putra. Satu saat beliau jalan-jalan di Pasar Kuta Dalam, beliau berjumpa dengan seseorang wanita yang wajahnya cantik yang disebut putri saudagar dari Cina. Karna lihat kecantikan putri itu, jadi ada hasrat beliau untuk mengawininya dengan diam-diam. Tanpa ada lewat upacara yang disaksikan oleh beberapa petinggi kerajaan, ataupun tanpa ada sepengetahuan permaisuri beliau yakni Dewi Mandul. Perkawinan dengan diam-diam Sri Jayapangus dengan putri Cina itu di ketahui oleh Bhatara Śiwa. Pada akhirnya Bhatara Śiwa mengusir Sri Jayapangus dari Panarajon karna kekeliruan beliau lakukan perkawinan tanpa ada upacara yajña, yg tidak sepatutnya dikerjakan oleh seseorang raja.

Sri Jayapangus yang disertai oleh ke-2 permaisurinya menuruni bukit Panarajon, menelusuri rimba menuju arah timur laut ketika hujan deras serta angin puting beliung. Beliau tanpa ada mengetahui capek selalu meneruskan perjalanan menuruni perbukitan, serta pada akhirnya hingga disuatu tempat yang bernama Gunung Lebih. Disana beliau beristirahat serta lakukan pemujaan pada beberapa dewa, memohon panduan dan memohon perlindungan-Nya. Saat lakukan pemujaan beliau memperoleh sabda atau pawisik dari beberapa dewa supaya selalu meneruskan perjalanan hingga hujan serta angin reda. Jika hujan serta angin mulai reda, jadi disanalah beliau diperintahkan untuk menempatkan satu sinyal serta membuat satu keraton. Ketika beliau turun dari bukit Panarajon di kenal dengan arti Kuta Dalam Jong Les.
Mengingat sabda atau pawisik dari beberapa dewa itu, beliau selalu meneruskan perjalanan menuruni bukit Panarajon yang disertai oleh ke-2 permaisurinya. Pada akhirnya beliau hingga disuatu tempat yang bernama Dharma Anyar, yakni tempat pertapaan untuk orang suci baik Mpu, Maha Rsi, atau yang lain. Setibanya beliau di Dharma Anyar hujan serta angin mulai reda, pada akhirnya di Dharma Anyar beliau membuat keraton yang di kenal dengan nama Balingkang. Disana beliau kembali membenahi kerajaan seperti dulu di Panarajon. Dan didampingi oleh beberapa Senapati Kuturan, petinggi kerajaan, serta ke-2 permaisurinya.
Pernikahan Sri Jayapangus dengan putri Cina yang disebut-sebut Dewi Danuh, melahirkan seseorang putra yang bernama Mayadanawa. Mayadanawa di kenal dengan titel Dalam Bedahulu yang beristana di Pejeng. Beliau berhasil ditaklukkan oleh Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. Makin lama sisa keraton Sri Jayapangus di Balingkang jadikan tempat pemujaan atau tempat suci untuk memuja Sri Jayapangus serta ke-2 permaisurinya yang sudah disucikan lewat upacara yajña. Sampai hingga saat ini di kenal dengan nama Pura Dalam Balingkang.

Berdasar pada Kekawin (geguritan) Barong Landung

Kehadiran Pura Dalam Balingkang juga termuat dalam Geguritan Barong Landung yang ditulis oleh I Nyoman Suprapta (dalam tesis Juta Ningrat, 2010), seperti berikut :
Dikisahkan seseorang raja yang tersohor, bijaksana serta banyak menulis prasasti-prasasti yang berisi mengenai proses upacara keagamaan, beliau bernama Sri Haji Jayapangus tempat kerajaan beliau di Bukit Panarajon. Dalam pemerintahanya didampingi oleh seseorang permaisuri yang bernama Dewi Danuh putri dari keturunan Bali Mula. Kelama-kelamaan datanglah seseorang pedagang dari negeri Cina yang bernama Dewi Ayu Subandar dengan seseorang putri cantik berkulit putih serta bermata sipit yang di kenal dengan nama Kang Cing We. Kang Cing We lalu diangkat jadi pelayan Mpu Lim. Karna Kang Cing We seringkali ada di keraton serta mempunyai muka yang begitu cantik, terpikatlah hati sang raja untuk memperistrinya. Dengan hal tersebut sang raja menginformasikan pada penggawa kerajaan serta rakyatnya untuk menyiapkan upacara perkawinan. Mendengar berita demikian rupa, jadi menghadaplah satu diantara Bhagawanta raja yaitu Mpu Siwa Gandu. Sang Bhagawanta raja merekomendasikan sang raja tidak untuk mengawini Kang Cing We, karna raja tidak bisa mempunyai dua permaisuri diluar itu juga Kang Cing We beragama Buddha sedang Sri Haji Jayapangus beragama Śiwa atau Hindu. Sang raja tidak dengarkan saran sang Bhagawanta raja serta tetaplah besikukuh untuk mengawini Kang Cing We. Hingga terselenggaralah upacara perkawinan itu. Karna Sang Bhagawanta terasa sarannya tidak diindahkan oleh Jayapangus, jadi geramlah Sang Bhagawanta serta melakukan tapa brata membuat bencana, hujan lebat, gempa serta bencana lainnya hingga hancurlah kerajaan beliau. Dengan kehancuran kerajaan beliau, jadi dipindahkanlah kerajaannya ke Jong Les atau Dalam Balingkang. Perkawinannya dengan Dewi Danuh mempunyai seseorang putra yang bernama Mayadenawa serta diangkat jadi raja di Bedahulu. Sedang perkawinanya dengan Kang Cing We tidak memiliki keturunan. Karna lama tidak memiliki keturunan untuk meneruskan pemerintahanya di Dalam Balingkang. Sedang Dewi Danuh telah moksa, jadi sang raja memohon ijin pada Kang Cing untuk bertapa di puncak gunung Batur. Seraya memohon anugrah supaya dikaruniai seseorang putra. Sesampainya di puncak gunung berjumpalah dengan seseorang putri yang begitu cantik, hingga jatuh cintalah Sang raja pada waita itu. Lama sang raja tidak kirim berita ke keraton Dalam Balingkang jadi disusullah oleh Kang Cing We ketempat pertapaan. Sesampainya Kang Cing We di tempat pertapaan diliat sang raja tengah berkasih-kasihan dengan seseorang wanita cantik. Lihat peristiwa sesuai sama itu jadi geramlah Kang Cing We serta memaki-maki wanita itu yang tidak ada beda yaitu penjelmaan dari Dewi Danuh untuk menggoda tapanya sang raja. Karna terasa dianya dimaki-maki oleh seseorang manusia atau Kang Cing We. Jadi geramlah Sang Dewi itu secepat kilat keluar api dari dahi-Nya serta api itu menguber Kang Cing We serta membakarnya. Hingga meninggal dunialah Kang Cing We. Dengan kematian Kang Cing We sang raja juga jadi sedih serta berduka hingga disudahilah tapanya. Karna sang raja terlebih dulu mengakui belum juga mempuyai istri pada Sang Dewi, jadi Sang Dewi mengambil keputusan sang raja memperoleh hukuman yang setimpal, serta pada akhirnya sang raja bernasib sama. Atas sepeninggal beliau berdua atau sang raja serta sang permaisuri dari kerajan, jadi rakyatnya juga menyusul ke tempat pertapaan, serta temukan junjunganya telah meninggal dunia. Rakyat Dalam Balingkang jadi sedih serta memohon ke pada Sang Dewi untuk menghidupkan kembali ke-2 junjunganya. Lihat ketulusan hati permintaan rakyat Dalam Balingkang itu jadi Sang Dewi mengabulkan permohonya namun berbentuk lingga berbentuk Barong Landung Lanang-Istri. Lalu Sang Dewi memerintahkan rakyat Dalam Balingkang untuk membawa ke-2 lingga itu ke Dalam Balingkang serta diberi anugrah kalau ke-2 lingga itu dapat memberi perlindungan dari alam niskala atau memerintah dari alam niskala. Sesampainya di Dalam Balingkang dibuatkanlah upacara agama.

Maharaja Sri Haji Jayapangus dengan ke-2 permaisurinya dijelaskan juga dalam prasasti Cempaga A Ib. 1-2, yakni seperti berikut :

Ing çaka 1103 çrawanamāsa i thi nāwami çuklapakā, ma, pa, wāraning wayangwayang, irikā diwaça ājnā pāduka çri mahārāja.

Ja Hāji Jayapangus, Hārkajalañcana, sahā rājapātnidwaya pāduka Bhtāri Çri Parameswari Indujakotana, Pāduka Çri Mahādewi Çaçangkajacihnā.
Terjemahan :

Berangka th. 1103 Çaka serta mengatakan nama raja Paduka Sri Maharaja Haji Jayapangus Harkajalancana serta ke-2 orang permaisurinya semasing bernama Paduka Bhatari Sri Prameswari Indujaketana serta Paduka Sri Mahadewi Sasangkajacihna (Atmodjo, 1975).

Narasi diatas melukiskan kalau pada saat pemerintahan Sri Haji Jayapangus, telah berlangsung jalinan yang erat pada Śiwa serta Buddha. Bahkan juga ke-2 tokoh agama disebut telah jadikan penasehat kerajaan, yakni Mpu Siwa Gandhu tokoh ajaran Śiwa serta Mpu Lim tokoh ajaran Buddha. Jalinan agama juga tampak pada perkawinan Sri Haji Jayapangus dengan Kang Cing We. Selanjutnya terjadi dua unsur yang berlainan yakni unsur purusa serta pradana atau Śiwa-Buddha.


Mitologi-mitologi yang berkembang dimasyarakat bisa menguatkan system keyakinan untuk umat Hindu-Buddha. Berdasar pada momen atau peristiwa yang sempat berlangsung pada zaman dulu. Seperti seseorang raja yang dapat memberi perlindungan pada rakyatnya. Hingga sesudah beliau meninggal dunia disucikan berdasar pada upacara yajña. Dan dipuja atau disungsung oleh pengikutnya, lalu beliau dimaksud bhatara. Pura Dalam Balingkang yaitu tempat bersthananya Ida Bhatara Dalam Balingkang atau Sri Haji Jayapagus. Bersama leluhur raja-raja di Panarajon yang sempat berkuasa di Bali. Sesudah disucikan dengan upacara yajña, jadi Sri Haji Jayapangus disetarakan dengan Dewa Surya atau Dewa Śiwa oleh beberapa pemuja-Nya.
Previous Post
Next Post

0 komentar: